Jurnal : PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN DENGAN METODE PENDEKATAN KONSTEKTUAL PADA MATA PELAJARAN SOSIOLOGI GUNA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA KELAS XI IPS 3 SMA NEGERI 12 BANDUNG

    PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN DENGAN METODE

    PENDEKATAN KONSTEKTUAL PADA MATA PELAJARAN

    SOSIOLOGI GUNA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR

    SISWA KELAS XI IPS 3 SMA NEGERI 12 BANDUNG

     

    Oleh :

     Fafarina

    NIP. 19621110 198811 2 001

     

    ABSTRAK

     

    Sejauh ini mata pelajaran IPS Sosiologi merupakan salah satu mata pelajaran yang tidak terlalu disukai oleh sebagian besar siswa, termasuk siswa kelas XI SMA Negeri 12 Bandung. Hasil belajar yang di capai siswa pada tahun – tahun sebelumnya selalu di bawah Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM). Rendahnya hasil belajar siswa yang di capai dapat disebabkan oleh motivasi siswa untuk belajar kurang, proses pembelajaran atau sarana yang kurang memadai. Salah satu upaya untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar yaitu dengan menggunakan modal pembelajaran. Hal ini di bertujuan untuk meningkatkan motivasi dan aktivitas siswa sehingga memudahkan siswa memahami pembelajaran.

    Penelitian ini dilaksanakan dalam dua siklus, masing-masing siklus dilakukan 2 (dua) kali pertemuan. Pada siklus 1 menunjukan peningkatan prosentase aktivitas siswa, pada pertemuan pertama  36 % dan pertemuan kedua 68 %. Sedangkan di siklus II pertemuan pertama 72 % dan pertemuan kedua 88%.

    Hasil belajarpun mengalami peningkatan di siklus I ketuntasan belajar 76%, sedangkan di siklus II ketuntasan belajar 84 % di samping itu tanggapan siswa juga positif terhadap model pembelajaran ini terlihat dari angket yang di jawab siswa yang merasa senang dengan model pembelajaran ini.

     

    Kata Kunci  :  Motivasi;  Hasil Belajar;  Pembelajaran Pendekatan Konstektual

     

     

     

    1. PENDAHULUAN

     

    Latar Belakang Masalah

    Sebagaimana ketentuan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, setiap sekolah/ madrasah mengembangkan Kurikulum Tingkat satuan Pendidikan berdasarkan Standar Kompetensi Lulusan (SKL) dan Standar Isi (SI) dan berpedoman kepada panduan yang di tetapkan oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP). Implementasi dari PP No. 19 membawa implikasi terhadap sistem penilaian, termasuk teknik dan prosedur penilaian yang di laksanakan oleh kelas.

    Banyaknya sekolah – sekolah yang setara, menyebabkan terjadinya persaingan bagi sebagian siswa, bahkan cenderung membosankan sehingga berakibat pada kurangnya motivasi belajar, hal ini tentu akan mempengaruhi hasil belajar siswa di sekolah. Proses pembelajaran di kelas selama ini di arahkan pada kemampuan peserta didik untuk menghafal informasi tanpa di tuntut untuk terlibat dalam pemecahan masalah mengenai pembelajaran di sekolah.

       Sekolah merupakan bagian integral dari proses pembelajaran yang mendasari perkembangan teknologi dewasa ini, perkembangan sains dan teknologi tentu tidak dapat terlaksana tanpa dilandasi oleh ilmu – ilmu dasar. Oleh karena itu seiring dengan semakin berkembangnya teknologi maka idealnya  kualitas pembelajaran para siswa di kelas harus semakin baik sehingga guru mampu membawa peserta didik kepada keberhasilan belajar, dengan kata lain kualitas pembelajaran di kelas dan hasil belajar peserta didik berbanding lurus dengan kemajuan teknologi.

    Pengamatan selama ini, khususnya di SMA Negeri 12 Bandung dirasakan bahwa sebagian peserta didik lebih banyak menunggu sajian guru dari pada mencari dan menemukan sendiri pengetahuan maupun keterampilan yang di butuhkan. Dominasi guru dalam proses pembelajaran menyebabkan peserta didik lebih bersifat pasif. Aktivitas peserta didik yang mendominasi adalah mendengarkan dan mencatat penjelasan guru. Mereka kurang aktif bertanya dan mengemukakan pendapatnya, mereka juga kurang termotivasi untuk memecahkan masalah secara bersama. Akibat dari keadaan ini menyebabkan kinerja dan prestasi belajar menjadi rendah.

                Materi pembelajaran IPS Sosiologi di kelas XI yang sangat luas dan berhubungan dengan kehidupan serta mempunyai keunikan sendiri di banding materi pelajaran IPS yang lain sehingga perlu di pelajari tersendiri.

                Berkenaan dengan hal itu maka perlu diupayakan model pembelajaran yang mendorong munculnya belajar bermakna pada para peserta didik, yakni bagaimana mereka mampu melibatkan diri secara fisik, mental dan intelektual dalam aktivitas belajar, Salah satu model yang di pilih adalah pembelajaran kooporatif. Salah satu diantaranya adalah pendekatan Konstektual.

                Penggunaan metode pembelajaraan dalam pelajaran Sosiologi di kelas dapat menarik perhatian siswa karena metode pembelajaran ini memiliki berbagai komponen sehingga pembelajaran tidak membosankan. Menurut Suyanto (2003:1) metode pembelajaran ini dapat membuat siswa terlibat dalam kegiatan yang bermakna yang di harapkan dapat membantu mereka mampu menghubungkan pengetahuan yang di peroleh di kelas dengan konteks situasi kehidupan nyata. Pembelajaran dengan peran serta lingkungan secara alami akan memantapkan pengetahuan yang dimiliki siswa. Belajar akan lebih bermanfaat dan bermakna jika seorang siswa mengalami  apa yang di pelajarinya bukan hanya sekedar mengetahui. Belajar tidak hanya sekedar menghafal tetapi siswa harus dapat mengonstruksikan pengetahuan yang dimiliki dengan cara mengaplikasikan pengetahuan yang dimiliki pada realita kehidupan sehari-hari. Dengan demikian pengembangan metode metode pembelajaran ini dalam proses pembelajaran pada aspek mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis baik dari segi berbahasa akan membuat pembelajaran lebih bervariasi.

                Dalam proses belajar di kelas, siswa dibiasakan untuk saling membantu dan berbagi pengalaman dalam kelompok masyarakan belajar (learning community). Dalam proses belajar, guru perlu membiasakan anak untuk mengalami proses belajar dengan melakukan penemuan dengan melakukan pengamatan, bertanya, mengajukan hipotesis, mengumpulkan data analisis data, dan menarik kesimpulan (inquiry).Seluruh proses dan hasil belajar diukur dengan berbagai cara dan diamati dengan indikator yang jelas (outhentic assessment). Setiap selesai pembelajaran guru wajib melakukan refleksi terhadap proses dan hasil pembelajaran (refleksion).

    Berdasarkan paparan di atas metode pembelajaran ini merupakan salah satu model pembelajaran yang efektif di terapkan pada proses pembelajaran di kelas.

                Oleh karena itu, topik penerapan model pembelajaran dalam pembelajaran perlu dipaparkan lebih lanjut.

    Berdasarkan uraian pada latar belakang masalah, identifikasi masalah di atas maka ada tiga permasalahan yang akan dipecahkan melalui penelitian ini :

    1. Apakah penerapan model pembelajaran dapat meningkatkan aktifitas peserta didik dengan teman belajarnya dalam mempelajari pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan tanpa menunggu sajian dari guru ?
    2. Apakah model pembelajaran yang diterapkan mampu meningkatkan motivasi dan prestasi belajar ?

     

     

    1. LANDASAN TEORI
    2. Pengertian Pendekatan Kontekstual

    Pendekatan Kontekstual adalah salah satu strategi pembelajaran yang di kembangkan oleh The Washingtom State Consortium for Contextual Teaching and Learning, yang melibatkan 11 perguruan tinggi, 20 sekolah, dan lembaga-lembaga yang bergerak di bidang pendidikan di Amerika Serikat. Salah satu kegiatan dari konsorsium tersebut adalah melatih dan memberi kesempatan kepada para guru dari enam provinsi di Indonesia untuk mempelajari pendekatan kontekstual di Amerika Serikat (Priyatni, 2002:1).

    Pendekatan kontekstual adalah konsep belajar yang membatu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari, dengan melibatkan tujuh komponen utama pembelajaran afektif, yaitu konstruktivisme, bertanya, menemukan, masyarakat belajar, pemodelan, refleksi, dan penilaian yang sebenarnya (Nurhadi, 2002: 5).

    Johnson (dalam Nurhadi, 2002: 12) merumuskan pengertian kontekstual sebagai suatu proses pendidikan yang bertujuan membantu siswa melihat makna dalam bahan pelajaran yang mereka pelajari dengan cara menghubungkannya dengan konteks kehidupan sehari-sehari, yaitu dengan konteks lingkungan pribadinya, sosialnya, dan budayanya. Untuk mencapai tujuan tersebut, sistem ini, akan menuntun siswa ke semua komponen utama, yaitu melakukan hubungan yang bermakna, mengerjakan pekerjaan yang berarti, mengatur cara belajar sendiri, bekerja sama, berpikir kritis dan kreatif, memelihara atau merawat pribadi siswa, mencapai standar yang tinggi, dan menggunakan penilaian sebenarnya. Pendekatan ini menurut suyanto (2003:2) merupakan suatu pendekatan yang memungkinkan siswa utuk menguatkan, memperluas, dan menerapkan pengetahuan dan keterampilan yang mereka peroleh dalam berbagai macam mata pelajaran yang baik di sekolah maupun di luar sekolah.

    Dari beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran kontekstual adalah konsep belajar pada saat guru menghadirkan dunia ke dalam kelas dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari, sementara siswa memperoleh pengetahuan dan keterampilan dari konteks yang terbatas, sedikit demi sedikit, dan dari proses mengonstruksi sendiri, sebagai bekal untuk memecahkan masalah dalam kehidupannya sehari-hari.

     

    1. Karakteristik Metode Kontekstual (Contextual Teaching and Learning)

    Menurut Johnson (dalam Nurdin, 2002:14) terdapat delapan utama yang menjadi karakteristik pembelajaran konstektual, yaitu :

    1. Melakukan hubungan yang bermakna,
    2. Mengerjakan pekerjaan yang berarti,
    3. Mengatur cara belajar sendiri,
    4. Bekerja sama,
    5. Berfikir kritis kreatif
    6. Mengasuh atau memelihara pribadi siswa,
    7. Mencapai standar yang tinggi, dan
    8. Menggunakan penilaian sebenarnya.

    Nurhadi (2003:20) menyebutkan dalam kontekstual mempunyai sebelas karakteristik antara lain yaitu :

    1. Kerja sama,
    2. Saling menunjang,
    3. Menyenangkan,
    4. Belajar dengan bergairah,
    5. Pembelajaran terintegrasi,
    6. Menggunakan berbagai sumber,
    7. Siswa aktif,
    8. Sharing dengan teman,
    9. Siswa aktif, guru kreatif,
    10. Dinding kelas dan lorong-lorong penuh dengan hasil karya siswa, peta-peta, gambar, artikel, humor, dan lain-lain, serta laporan kepada orangtua bukan hanya rapor, tetapi hasil
    11. Karya siswa, laporan hasil praktikum, kartangan siswa, dan lain-lain

    Priyatni (2002:2) menyatakan bahwa pembelajaran yang dilaksanakan dengan metode ini memiliki karakteristik sebagai berikut:

    1. Pembelajaran dilaksanakan dalam konteks yang autentik, artinya pembelajaran diarahkan agar siswa memiliki keterampilan dalam memecahkan masalah dalam konteks nyata atau pembelajaran diupayakan dilaksanakan dalam lingkungan yang alamiah (learning in real life setting).
    2. Pembelajaran memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengerjakan tugas-tugas yang bermakna (meaningful learning).
    3. Pembelajaran dilaksabakan dengan memberikan pengalaman bermakna kepada siswa melalui proses mengalami (learning by doing).
    4. Pembelajaran dilaksanakan melalui kerja kelompok, berdiskusi, saling mengoreksi (learning in a group).
    5. Kebersamaan, kerja sama saling memahami dengan yang lain secara mendalam merupakanaspek penting untuk menciptakan pembelajaran yang menyenangkan (learning to knot each other deeply).
    6. Pembelajaran dilaksanakan secara aktif, kreatif, dan mementingkan kerja sama ( learning to ask, to inquiry, to York together)
    7. Pembelajaran dilaksanakan dengan cara yang menyenangkan (learning as an enjoy activity).

     

    1. Penerapan Metode Pembelajaran Kontekstual dalam Pembelajaran Sosiologi

    Metode atau cara pengajaran guru yang cenderung konvensional dan tradisional, sehingga membuat rata-rata hasil belajar siswa rendah menjadikan salah satu dasar dalam melakukan penelitian ini. Sehingga diperoleh peluang untuk melakukan penelitian tentang efektivitas penggunaan pendekatan Contextual Teaching-Learning (CTL) dalam proses pembelajaran.

    Salah satu upaya guru untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam memahami setiap mata pelajaran, khususnya mata pelajaran Sosiologi bagi siswa kelas XI SMA Negeri 12 Bandung adalah dengan menggunakan metode penelitian yaitu Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Dalam PTK ini dicoba diterapkan pendeketan CTL yang merupakan pendekatan pembelajaran secara aplikatif dalam meningkatkan pemahaman siswa materi pembelajaran, sehingga mereka mampu meningkatkan nilai dan prestasi belajarnya. Hal ini terbukti dengan adanya grafik hasil penilaian tes (pre-tes dan pos-tes) yang cenderung meningkat secara signifikan. Dalam PTK ini digunakan (dua) siklus penelitian sebagaimana diuraikan oleh Kemmis dan Taggart tentang penelitian tindakan yang memiliki 4 (empat) tahap penting di dalamnya, yaitu: tahap perencanaan (planning), tahap pelaksanakan (acting), tahap pengamatan (observasi), dan tahap refleksi (reflecting). Pada tahap perencanaan, guru berupaya untuk merencanakan sebuah pembelajaran yang dapat merangsang siswa lebih pro-aktif sebagai subyek pembelajaran bukan sebagai objek pembelajaran dengan berbagai indikator keberhasilan yang sesuai Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar mata pelajaran dimaksud. Sementara pada tahap pelaksanaan, guru mencoba menerapkansegala apa yang tertuang dalam RPP sebagai bagian dari tahap perencanaan sebelumnya. Sedangkan pada tahap pengamatan, guru mencoba untuk menganalisa sampai sejauh mana proses pembelajaran itu.

    Sesuai dengan SK, KD, dan tujuan pembelajaran sampai ditemukan sesuatu yang harus diperbaiki dalam tahap berikutnya. Dan pada tahap akhir atau refleksi, guru dimotivasi untuk melakukan perbaikan atas segala kesalahan dan kelemahan yang terjadi selama proses pembelajaran sebelumnya.

     

    1. Hasil Belajar Siswa dengan Metode Pendekatan Kontekstual

    Menurut Winkel (1991:42)  hasil belajar merupakan bukti keberhasilan yang telah dicapai siswa di mana etiap kegiatan belajar dapat menimbulkan suatu perubahan yang khas. Dalam hal ini hasil belajar meliputi keaktifan, keterampilan proses, motivasi, juga prestasi belajar. Hasil belajar adalah kemampuan seseorang dalam menyelesaikan suatu kegiatan, secara singkat dapat dikatakan hasilnya adalah menyangkut aspek afektif, aspek psikomotor, dan aspek afektif pad keaktifan siswa belajar, dan aspek kognitif pada prestasi belajar siswa.

    Apabila dikaitkan dengan peningkatan kualitas dalam pendidikan, maka terdapat kaitan yang jelas antara ilmu pendidikan teoretis, praktis, histories, dan sistematis. Untuk memaksimalkan kualitas anak didik di perlukan suatu teknik atau metode yang paling sesuai dengan kondisi siswa. Untuk menemukan metode ini, diperlukan suatu konsep sistematis yang dapat digali dari pengalaman atau histori pada masa lampau serta konsep – konsep atau ide – ide sistematis yang mendukung. Ide – ide atau teori tidak akan dapat diaplikasikan secara maksimal tanpa metode pendidikan metode pendidikan atau teknik yang tikdak mendukung dalam proses belajar mengajar.

    Dengan menyadari keterkaitan yang cukup kuat antara aspek teknis (praktis), teoretis,dan ilmu pendidikan sistematis ini, maka dapat dikatakan bahwa metode atau cara dalam teknik pendidikan merupakan hal yang sangat penting untuk diperhatikan guna mendukung kualitas yang maksimal dan mendukung ilmu pendidikan sistematik secara umum.

    Baik ilmu pendidikan teoritis, praktis, maupun historis kesemuanya bermanfaat dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan manusia Indonesia guna menunjang pembangunan sumberdaya manusia seutuhnya.

    Dalam kaitannya dengan ilmu pendidikan praktis, salah satunya adalah menekankan pada penguatan keterampilan praktek mengajar. Keterampilan mengajar merupakan suatu kompetisi profesional yang cukup kompleks, sebagai integritas dari berbagai kompetensi guru secara utuh dan menyeluruh.

    Turney (1973 dalam Mulyasa, 2007:69) mengungkapkan “...Delapan keterampilan mengajar yang sangat berperan dalam menentukan kualitas pembelajaran, yaitu keterampilan bertanya, memberi penguatan, mengadakan variasi, menjelaskan, membuka dan menutup pelajaran, membinmbing metode – Kontekstual kelompok kecil dan perorangan”. Penguasaan terhadap keterampilan tersebut harus utuh dan terintegritas, sehingga diperlukan latihan sistematik, misalnya melalui pembelajaran mikro. Adapun uraian mengenai delapan keterampilan dalam menentukan kualitas pembelajaran menurut Turney tersebut adalah sebagai berikut :

    1. Menggunakan keterampilan bertanya

    Keterampilan bertanya sangat perlu dikuasai guru untuk menciptakan pembelajaran yang efektif dan menyenangkan, karena hampir dalam setiap pembelajaran guru dituntut untuk mengajukan pertanyaan, dan kualitas pertanyaan yang diberikan guru akan menentukan kualitasa menjawab anak didik.

    1. Memberi penguatan

    Penguatan (reinforcement) merupakan respon terhadap prilaku yang dapat memungkinkan terulangnya kembali prilaku tersebut. Penguatan dapat dilakukan secara verbal dan non verbal dengan prinsip kehangatan, keantusiasan, kebermaknaan, dan menghindari penguatan respon yang negatif. Penguatan secara verbal merupakan kata-kata dan kalimat pujian seperti “bagus, tepat, bapak puas dengan hasil kerja kalian.” Sedangkan secara non verbal, dapat dilakukan dengan gerakan mendekati peserta didik, sentuhan, acungan jempol, dan kegiatan yang menyenangkan. Penguatan memiliki tujuan yaitu untuk meningkatkan perhatian peserta didik terhadap pembelajaran, rangsangan dan meningkatkan motivasi belajar, meningkatkan kegiatan belajar, dan membina prilaku yang produktif.

    1. Mengadakan Variasi

    Variasi dimaksudkan untuk mengurangi kebosanan peserta didik, agar selalu tekun, antusias, dan partisifatif. Variasi ini ada empat jenis, yaitu variasi dalam gaya mengajar, varisai dalam penggunaan media dan sumber belajar, variasi dalam pola interaksi, dan variasi dalam kegiatan mengajar.

    1. Menjelaskan

    Menjelaskan adalah mendeskripsikan secara lisan tentang suatu benda, keadaan, fakta dan data sesuai dengan waktu dan konsep – konsep yang berlaku. Menjelaskan merupakan keterampilan yang sangat penting mengingat sebagai besar dari peran guru adalah menjelaskan.

    1. Membuka dan menutup pelajaran

    Membuka dan menutup pelajaran merupakan dua kegiatan rutin guru dalam memulai dan mengakhiri pembelajaran. Agar dua kegiatan tersebut memiliki arti yang dapat menunjang kegiatan pembelajaran, maka perlu dilakukan secara profesional. Membuka pelajaran merupakan kegiatan guru untuk menciptakan kesiapan mental dan menarik perhatian peserta didik secara optimal, agar mereka memusatkan diri sepenuhnya pada materi yang disajikan. Upaya tersebut meliputi menghubungkan materi yang telah dipelajari dengan yang akan dipelajari, menyampaikan tujuan yang akan dicapai dan garis  besar yang akan dipelajari, mengajukan pertanyaan baik untuk mengetahui pemahaman peserta didik terhadap pelajaran yang telah lalu mampu untuk menjajaki kemampuan awal berkaitan dengan bahan yang akan dipelajari. Sedangkan menutup pelajaran merupakan kegiatan yang dilakukan guru untuk mengetahui pencapaian tujuan umum dan pemahaman peserta didik terhadap materi yang dipelajari, serta untuk mengakhiri pembelajaran. Kegiatan yang dapat dilakukan agar bermanfaat dalam menutup pembelajaran tersebut diantaranya adalah dengan menarik kesimpulan, mengajukan beberapa pertanyaan untuk mengukur tingkat pencapaian tujuan, menyampaikan bahan – bahan pendalam dan tugas – tugas yang harus dikerjakan, memberikan post test baik secara lisan maupun tulisan.

     

     

    1. Membimbing metode – Kontekstual kelompok kecil

    Diskusi kelompok adalah suatu proses yang teratur dan melibatkan sekelompok orang dalam interaksi tatap muka untuk mengambil kesimpulan dan memecahkan masalah. Hal – hal yang sangat penting untuk diperhatikan dalam membimbing metode-Kontekstual kelompok kecil ini adalah memutuskan perhatian peserta didik pada topic metode-Bakat Tihlang, memperluas masalah, memperhatikan dan menganalisis pandangan peserta didik, meningkatkan partisipasi peserta didik, menyebarkan kesempatan berpartisipasi, serta dengan menutupi metode-Kontekstual yang baik.

    1. Mengelola Kelas

    Pengelolaan kelas merupakan keterampilan guru untuk menciptakan iklim pembelajaran yang kondusif dan mengendalikannya jika terjadi gangguan dalam pembelajaran.

    1. Mengajarkan kelompok kecil dan perorangan

    Pengajaran kelompok kecil dan perorangan merupakan suatu proses pembelajaran yang memungkinkan guru memberikan perhatian terhadap setiap peserta didik, dan menjalani hubungan yang lebih akrab dengan peserta didik atau memberikan kesempatan pengakraban antara peserta didik. Keterampilan Pembelajaran kelompok kecil dapat dilakukan dengan mengembangkan keterampilan dalam pengorganisasian, dan memberikan variasi dalam pemberian tugas. Disamping itu juga dilakukan dengan pembelajaran tugas yang menantang dan sekitarnya menarik siswa. Khusus dalam pembelajaran perorangan, sangat penting untuk memperhatikan kemampuan berfikir  siswa agar yang disampaikan dapat diserap dengan baik.

    Konsep tersebut salah satunya menekankan bahwa sangat di perlukan variasi dalam mengajar guna mengurangi kejenuhan siswa terhadap materi – materi yang cukup padat di sekolah. Variasi, salah satunya dapat dilakukan dengan metode “membaca-menyingkat, dan latihan berulang” atau disebut sebagai metode “Bakat_Tihlang”. Dalam metode ini siswa dilatih untuk meningkatkan suatu poin hafalan, dan kemudian didukung dengan latihan – latihan berulang untuk menguatkan pemahaman siswa. Metode ini memberi penguatan dalam dua aspek utama, yaitu aspek mempermudah mengingat (memory reducemnet) dan aspek menguatkan logika pemahaman (logic enforcement)

     

     

    • METODE PENELITIAN

    Penelitian ini dilakukan dengan membandingkan hasil prestasi belajar siswa sebelum dan sesudah di gunakan metode Kontekstual dalam menggunakan angka matematis melalui nilai, maka dalam penelitian inipun menggunakan metode kuantitatif yaitu dengan membandingkan nilai – nilai prestasi siswa. Teknik  kuantitatif yang digunakan adalah tidak dengan menggunakan metode statistic akan tetapi dengan membandingkan nilai ul;angan pasca pelaksanaan proses pembelajaran dalam setiap siklusnya dengan nilai sebelum diberlakukannya kegiatan pembelajaran dengan metode Kontekstual.

    Jenis penelitian ini adalah penelitian tindak kelas, dimana sample data hanya diambil pada siswa kelas XI SMA negeri 12 Bandung dengan alasan penelitian adalah pengajar kelas tersebut sehingga pengambilan data dan pengamatan kualitatif untuk bahan penjelasan lebih mudah di ambil peneliti. Dengan jenis penelitian tindakan kelas, maka hasil yang diperoleh belum tentu dapat digunakan untuk menarik kesimpulan pada kelas – kelas lain atau kelas yang sama pada sekolah lain, sebelum dilakukan penelitian lain yang lebih luas cakupannya. Dengan kata lain, hasil pengkajian ini belum dapat digunakan untuk generalisasi terhadap seluruh siswa.

    Tempat atau lokasi penelitian adalah di tempat dimana penelitian melaksanakan pengajaran yaitu di SMA Negeri 12 Bandung. Penelitian telah menerapkan metode Kontekstual selama 3 bulan. Waktu penelitian dilakukan pada tahun pelajaran 2015/2016.

     

     

    1. PEMBAHASAN

    Berdasarkan hasil pengamatan mengenai pelaksanaan tindakan dan hasil  observasi kegiatan baik guru maupun siswa serta observasi situasi dan kondisi dengan menggunakan model pembelajaran dengan metode pendekatan kontekstual dalam upaya meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa kelas XII SMA Negeri 12 Bandung dalam pembelajaran Sosiologi pada siklus I, maka pembagian kelompok berdasarkan penyebaran prestasi akademik.

    1. Observasi Proses Pembelajaran

    Hasil observasi pada siklus II menunjukan peningkatan yang cukup signifikan. Kesungguhan semangat siswa dalam mengikuti pelajaran IPA lebih meningkat. Seluruh siswa mengikuti pelajaran dengan penuh semangat, tidak ada yang malas atau kurang bersemangat dalam mengikuti pelajaran IPA.

     

    Tabel 4.1. Hasil Penilaian Laporan Pada Siklus II

     

    No

    Kelompok

    Komponen yang Diamati

    Ketepatan dalam membuat pertanyaan

    Ketepatan dalam menjawab pertanyaan

    Nilai Rata-rata

    1

    A

    100

    75

    87,5

    2

    B

    80

    85

    83

    3

    C

    90

    90

    90

    4

    D

    90

    90

    90

    5

    E

    70

    75

    73

    6

    F

    100

    80

    90

     

    Rata-rata

    88

    83

    86

    Keberanian siswa untuk mengemukakan pendapat juga semakin meningkat. Siswa sudah berani untuk mengungkapkan pendapat, mengomentari ataupun ataupun mengungkapkan ide-idenya. Hal lain juga semakin meningkat yaitu keberanian untuk membuat pertanyaan ataupun untuk menjawab pertanyaan. Para siswa berlomba-lomba untuk memperoleh pertanyaan dan menjawab pertanyaannya dengan tepat. Peningkatan ini juga terlihat pada kemampuan siswa untuk tampil di kelas dengan sebaik- baiknya. Berdasarkan Tabel 4.4,83% rata-rata siswa mampu menjawab pertanyaan dengan sangat baik, serta 88% siswa memiliki kemampuan yang sangat baik untuk membuat pertanyaan yang bagus, mudah dipahami dan sesuai dengan materi, sehingga pelajaran dapat berlangsung dengan lancar, aktif, kreatif, bermakna dan menyenangkan. Secara keseluruhan tingkat aktifitas siswa 84% termasuk kategori baik. Dengan suasana kelas yang demikian, ternyata siswa lebih mudah di pahami materi pelajaran. Dari hal tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa Pembelajaran dengan metode pendekatan kontekstual dapat meningkatkan motivasi siswa kelas XI SMA Negeri 12 Bandung.

     

    Tabel 4.2. Tingkat Aktifitas Siswa Pada Siklus II

     

    No

    Kelompok

    Komponen yang diamati

    Ketekunan

    Kerjasama

    Antusiasme

    Nilai Rata-rata

    1

    A

    85

    80

    80

    82

    2

    B

    90

    80

    85

    85

    3

    C

    95

    85

    90

    90

    4

    D

    90

    80

    85

    85

    5

    E

    80

    85

    80

    82

    6

    F

    80

    80

    80

    80

     

    Rata-rata

    87

    82

    83

    84

     

    1. Paparan Hasil Belajar Siswa

    Berdasarkan data hasil penelitian siklus II mengenai hasil belajar siswa melalui model Pembelajaran dengan metode pendekatan kontekstual diperoleh data untuk nilai tertinggi yang diperoleh responden adalah 100 dan nilai terendah adalah 65, serta rata-rata hasil hasil belajar sebesar 87,5. Berdasarkan tabel 4,6 peroleh hasil belajar siswa melalui model pembelajaran dengan metode pendekatan kontekstual, 42% berada pada kategori baik sekali, 50% baik, dan 8% cukup.

                                                                                                      

    Tabel. 4.3. Deskripsi Hasil Belajar Pada Siklus II

     

    Interval

    Frekuensi

    Persentase

    Kategori

    86-100

    22

    42%

    Baik sekali

    71-85

    12

    50%

    Baik

    56-70

    4

    8%

    Cukup

    41-55

    -

    -

    Kurang

    <40

    -

    -

    Sangat kurang

    Jumlah

    36

    100%

     

     

    Adapun ketuntasan individu mencapai 92%. Hal ini memberikan indikator bahwa proses pembelajaran sudah mencapai tujuan yang diharapkan guru yang tertuang dalam indikator kinerja lebih dari 85% dari jumlah siswa dalam kelas telah mencapai ketuntasan individual, sehingga penelitian tindakan kelas dinyatakan berhasil dan tidak perlu mengadakan siklus berikutnya. Dengan demikian dapat ditarik kesimpulan bahwa penerapan pembelajaran dengan metode pendekatan kontekstual mampu meningkatkan hasil belajar siswa kelas XI IPS 3 SMA Negeri 12 Bandung.

    Berdasarkan hasil penelitian pada siklus I dan II yang telah dilakukan, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa pembelajaran dengan metode pendekatan kontekstual terbukti dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa kelas XI IPS 3 SMA Negeri 12 Bandung. Hal tersebut ditandai dari ketercapaian indikator keberhasilan penelitian tindakan kelas. Keaktifan siswa dalam mengikuti pembelajaran terlihat semakin meningkat dari siklus I sebesar 75,3% dalam kategori baik menjadi 84% pada siklus II dalam kategori sangat baik. Demikian pula dalam hal hasil belajar siswa, terjadi peningkatan rata-rata hasil belajar dari siklus I sebesar 78,75 menjadi 87,5 pada siklus II.

     

    1. Refleksi dan revisi

    Berdasarkan kepada hasil pengamatan dan analisis data pada siklus II, peneliti dapat merefleksikan kegiatan yang sudah dilakukan, maka didapat hasil sebagai berikut:

    Karena guru pada saat membagi kelompok berdasarkan penyebaran prestasi akademik, maka:

    1. Prestasi tiap-tiap kelompok/individu sangat memuaskan.
    2. Persaingan antar kelompok sudah terlihat, sehingga suasana kelas menjadi dinamis.
    3. Secara klasikal, hasil belajar siswa sudah mencapai ketuntasan belajar.

     

     

    KESIMPULAN DAN SARAN

    1. Kesimpulan

    Berdasarkan hasil penelitian tentang perbaikan pembelajaran pada mata pelajaran Sosiologi yang masing-masing terdiri dari 2 metode, serta melakukan pengamatan pada kegiatan tersebut, diperoleh kesimpulan sebagai berikut:

    1. Prestasi belajar siswa sebelum menggunakan variasi metode pembelajaran selalu menunjukan prestasi yang kurang memuaskan.
    2. Aktifitas siswa selama proses pembelajaran dengan metode Pendekatan Kontekstual menunjukan perubahan yang positif. Terbukti dengan keaktifan dan keterlibatan dari siswa baik secara fisik, mental, emosional, dan kemampuan intelektual.
    3. Pada saat proses pembelajaran guru harus banyak memberikan contoh pengerjaan soal yang bervariasi dan mengikut sertakansiswa dalam proses penyelesaian soal-soal tersebut dengan menunjukan beberapa orang siswa untuk belajar menyelesaikannya sesuai dengan kemampuannya masing- masing dengan bimbingan guru.
    4. Prestasi belajar siswa dalam memahami dan mempelajari materi pembelajaran menunjukan hasil yang memuaskan. Prestasi ini terlihat dari hasil evaluasi siswa, terlihat nilai siswa sudah di atas 50.
    5. Guru dapat menemukan berbagai metode pembelajaran yang menarik pada mata pelajaran Sosiologi, dengan tujuan agar siswa lebih interaktif dalam pembelajaran di masa sekarang dan masa yang akan datang.

     

     

    1. Saran

    Berdasarkan kesimpulan-kesimpulan diatas, dalam rangka menentukan kualitas pembelajaran sebaiknya yang dilakukan oleh guru untuk mencapai tujuan mengaktifkan siswa dalam kelas dan meningkatkan daya serap siswa pada materi pelajaran, diantaranya adalah:

    1. Memilih metode pembelajaran sesuai topik yang disampaikan.
    2. Menentukan alat peraga yang menarik dan sesuai dengan topik yang akan disampaikan.
    3. Mengorganasasikan siswa dalam pembelajaran.
    4. Mengadakan latihan-latihan dan pemberian tugas.

    Selain daripada itu, berdasrkan kesimpulan di atas, seyogyanya para guru Sekolah Menengah Atas memiliki kemampuan dalam meningkatkan kualitas pembelajaran untuk mencapai keberhasilan optimal.

    Kepala Sekolah sebagai pemimpin di Sekolah juga harus mampu menyediakan alat-alat peraga dan media pembelajaran disekolahnya sebagai pendukung proses peningkatan prestasi belajar siswa dan penunjang Guru dalam proses pembelajaran di kelas.

     

     

    1. DAFTAR PUSTAKA

     

    Depdiknas. 2008. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Edisi IV. Jakarta : Gramedia Utama.

     

    Ahmad Riva’I dan Nana Sudjana, 1990 Media Pengajaran Sinar Baru Bandung

     

    Gilkey, R.et al. (1996) Defisi Teknologi Pendidikan diterjemahkan oleh Hikmat, H (2001) Strategi Pemberdayaan Masyarakat Bandung : Humaniora Utama

    Retno, 2003 Media Pendidikan dan Model Pembelajaran, Pengertian Pengembangan dan Pemanfaatan Rajawali Jakarta

     

    Sudikin, 2002 Manajemen Penelitian Tindakan Kelas Insan Cendikia Jakarta

     

    Udin SW 1992 Strategi Belajar Mengajar Depdikbud Jakarta

    Wahyudi. (2006). Tingkatkan Pemahaman siswa terhadap materi pembelajaran.

     

     

    Sumber lain:

     

    http://www. Bruderfic.or.id/h-129/motivasi-belajar-siswa.html, diakses 23 Juni 2009

     

    © 2017 Sekolah Menengah Atas Negeri 12 Bandung