Jurnal : PENERAPAN PENDEKATAN KOLABORATIF MURDER DALAM MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR SOSIOLOGI PARA SISWA KELAS XII IPS SMA NEGERI 12 BANDUNG

    PENERAPAN PENDEKATAN KOLABORATIF MURDER DALAM

    MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR SOSIOLOGI

    PARA SISWA KELAS XII IPS SMA NEGERI 12 BANDUNG

     

    Oleh :

     Fafarina[1]

    NIP. 19621110 198811 2 001

     

    ABSTRAK

     

    Sejauh ini mata pelajaran IPS Sosiologi merupakan salah satu mata pelajaran yang tidak terlalu di sukai oleh sebagian besar siswa, termasuk siswa kelas XI SMA Negeri 12 Bandung. Hasil belajar yang di capai siswa pada tahun – tahun sebelumnya selalu di bawah Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM). Rendahnya hasil belajar siswa yang di capai dapat disebabkan oleh motivasi siswa untuk belajar kurang, proses pembelajaran atau sarana yang kurang memadai. Salah satu upaya untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar yaitu dengan menggunakan modal pembelajaran. Hal ini di bertujuan untuk meningkatkan motivasi dan aktivitas siswa sehingga memudahkan siswa memahami pembelajaran.

    Penelitian ini di laksanakan dalam dua siklus, masing-masing siklus dilakukan 2 (dua) kali pertemuan. Pada siklus 1 menunjukan peningkatan prosentase aktivitas siswa, pada pertemuan pertama  36 % dan pertemuan kedua 68 %. Sedangkan di siklus II pertemuan pertama 72 % dan pertemuan kedua 88%. Hasil belajarpun mengalami peningkatan di siklus I ketuntasan belajar 76 %, sedangkan di siklus II ketuntasan belajar 84 % di samping itu tanggapan siswa juga positif terhadap model pembelajaran ini terlihat dari angket yang di jawab siswa yang merasa senang dengan model pembelajaran ini.

     

    Kata Kunci  :  Motivasi; Hasil Belajar; Pembelajaran Pendekatan Konstektual

     

     

    1. PENDAHULUAN

    Latar Belakang Masalah

    Suatu pengajaran yang mengutamakan prinsip individual tidak akan menguntungkan siswa maupun masyarakat. Kehidupan sebagian besar siswa dipengaruhi oleh orang lain maupun teman – temannya. Di mana ada orang hidup Bersama – sama, tentu di sana ada kontak sosial. Hubungan sosial antara sesame manusia merupakan suatu keharusan, sebab dengan kontak sosial orang akan dapat mengembangkan kepribadiannya dengan lebih sempurna. Dengan kegiatan – kegiatan ini maka dalam setiap kegiatan mengajar guru dituntut agar sanggup menciptakan suasana sosial yang membangkitkan kerja sama diantara para siswa dalam mewujudkan materi pelajaran supaya dapat diserap lebih efektif dan efisien.

    Kerja sama antara para siswa sejatinya telah menjadi tuntutan kurikulum Pendidikan. Perubahan orientasi Pendidikan dengan menempatkan siswa sebagai pusat perhatian menuntut para guru untuk lebih kreatif dalam mengelola kegiatan pembelajaran. Guru dituntut mampu menggeser penekanan kegiatan pembelajaran dari “apa bahan yang akan dipelajari siswa” ke “bagaimana membelajarkan kompetensidan memperkaya pengalaman belajar siswa”.

    Dalam pembelajaran Sosiologi misalnya, pembelajaran ditekankan pada pemberian pengalaman langsung untuk mengembangkan kompetensi agar siswa mampu menjelajahi dan memahami lingkungan sekitarnya secara ilmiah. Pendidikan Sosioloigi misalnya, pembelajaran ditekankan pada pemberian pengalaman langsung untuk mengembangkan kompetensi agar siswa mampu menjelajahi dan memahami lingkungan sekitarnya secara ilmiah. Pendidikan sosiologi diarahkan untuk “mencari tahu” dan “berbuat” sehingga dapat membantu siswa untuk memperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang diri sendiri dan lingkungan sekitarnya. Selanjutnya siswa diharapkan dapat mengembangkan dan menerapkan pemahaman tersebut dalam kehidupan sehari – hari.

    Salah satu cara untuk mengembangkan sikap sosial siswa khususnya dalam pelajaran Sosiologi dapatditempuh dengan menggunakan pendekatan kolaboratif MURDER dalam kegiatan pembelajaran. Menurut Santyasa, pembelajaran kolaboratif dapat menyediakan peluang untuk menuju pada kesuksesan praktek–praktek pembelajaran. Sebagai teknoplogi untuk pembelajaran (technology for instruction), pembelajaran kolaboratif melibatkan partisipasi aktif para siswa dan meminimalisasi perbedaan–perbedaan antar individu.

    Pembelajaran kolaboratif telah menambah momentum Pendidikan formal dan informal dari dua kekuatan yang bertemu, yaitu:

    • Realisasi praktek, bahwa hidup di luar kelas memerlukan aktivitas kolaboratif dalam kehidupan di dunia nyata;
    • Menumbuhkan kesadaran berinteraksi sosial dalam upaya mewujudkan pembelajaran bermakna (Santyasa, 2006: 5).

    Dengan melihat kondisi yang ada di lingkungan SMAN 12 Bandung yang pada dasar nya tidak ada masalah dalam sarana belajar, keadaan siswa yang kurang antusias dalam mengikuti pelajaran Sosiologi perlu dicarikan solusi – solusi terutama metode – metode mengajar yang dapat meningkatkan aktifitas dan hasil belajar siswa. Berdasarkan pengamatan peneliti selama mengasuh pelajaran Sosiologi, tempak bahwa para siswa memang “kurang bergairah” dalam belajar  Sosiologi. Akibatnya yaitu mereka kurang mampu untuk memecahkan soal – soal Sosiologi sehingga hasil belajarnya pun kurang memuaskan.

    Salah satu carayang dapat ditempuh untuk mengatasi permasalahan tersebut yakni dengan menggunakan pendekatan kolaboratif dalam pembelajaran Sosiologi khususnya pendekatan kolaboratif dalam pembelajaran Sosiologi khususnya pendekatan kolaboratif MURDER yang terdiri atas empat poin penting yaitu mood, understand, recall, detect, elaborate, review.

    Langkah – langkah pembelajaran kolaboratif MURDER adalah sebagai  berikut :

    1. Para siswa dalam kelompoknya dibagi menjadi dua pasangan dyad, yaitu dyad-1 dan dyad-2 dan memberikan tugas pada masing–masing pasangan.Setelah penataan suasana hati, salah satu anggota dyad-1 menemukan jawaban tugas – tugas untuk pasangannya dan anggota yang lain menulis sambal mengoreksi jika ada kekeliruan. Hal yang sama juga dilakukan oleh pasangan dyad- 2.
    2. Setelah pasangan dyad-1 dan pasangan dyad-2 selesai mengerjakan tugas masing–masing, pasangan dyad-1 memberitahukan jawaban yang ditemukan oleh mereka kepada pasangan dyad-1, sehingga terbentuklah laporan lengkap untuk seluruh tugas hari itu.
    3. Masing–masing pasangan dyad dalam kolompok kolaboratif melakukan elaborasi, inferensi, dan revisi (bila diperlukan) terhadap laporan yang akan dikumpulkan.
    4. Laporan masing – masing pasangan dyad terhadap tugas – tugas yang telah dikumpulkan, disusun perkelompok kolaboratif.
    5. Laporan siswa dikoreksi, dikomentari, dinilai dikembalikan pada pertemuan berikutnya, dan didiskusikan.

    Dengan cara ini diharapkan para siswa diharapkan akan lebih aktif dalam belajarnya sehingga hasil belajar Sosiologi merekapun akan dapat ditingkatkan.

    Berdasarkan hal – hal tersebut di atas dalam penelitian tindakan kelas ini dicoba untuk menerapkan pendekatan kolaboratif MURDER dalam rangka meningkatkan aktivitas dan hasil belajar Sosiologi para siswa kelas XII IPS SMAN 12 Bandung. Dengan metode ini diharapkan akan terjadi interaksi antara siswa sehingga mereka bias lebih bergairah dan antusias dalam mengikuti pelajaran Sosiologiyang akan bermuara pada peningkatan penguasaan konsep – konsep Sosiologi. Beradasarkan latar belakang masalah di atas, dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut :

    1. Apakah pendekatan kolaboratif MURDER dapat meningkatkan aktivitas siswa kelas XII IPS SMAN 12 Bandung dalam pembelajaran Sosiologi ?
    2. Apakah pendekatan kolaboratif MURDER dapat meningkatkan hasil belajar dalam pembelajaran Sosiologi bagi siswa kelas XII IPS SMAN 12 Bandung.

     

    1. LANDASAN TEORI
    2. Pengertian Pembelajaran Kolaboratif

    Pembelajaran kolaboratif dapat menyediakan peluang untuk menuju pada kesuksesan praktek–praktek pembelajaran. Sebagai teknologi untuk pembelajaran (technology for instruction), pembelajaran kolaboratif melibatkan partisipasi aktif para siswa dan meminimisasi perbedaan – perbedaan antar individu. Pembelajaran kolaboratif telah menambah momentum Pendidikan formal dan informal dari dua kekuatan yang bertemu, yaitu :

    1. Realisasi praktek, bahwa hidup di luar kelas memerlukan aktivitas kolaboratif dalam kehidupan di dunia nyata;
    2. Menumbuhkan kesadaran berinteraksi sosial dalam upaya mewujudkan pembelajaran bermakna.

    Ide pembelajaran kolaboratif bermula dari perpsektif filosofis terhadap

    1. Teori Pembelajaran MURDER

    Pembelajaran MURDER merupakan pembelajaran yang diadaptasi dari buku karya Bob Nelson “ The Complete Problem Solver” yang merupakan gabungan dari beberapa kata yang meliputi :

    1. Mood (Suasana Hati)

    Hamzah (2006:82) menyatakan bahwa suasana hati bumum juga memiliki dua skala, yaitu sebagai berikut:

    1. Optimisme,
    2. Kebahagiaan,
    3. Understand (Pemahaman)

    Dalam belajar unsur pemahaman itu tidak dapat dipisahkan dari unsur – unsur lain. Dengan motivasi, konsentrasi dan reaksi, maka siswa dapat mengembangkan fakta–fakta, ide–ide atau skill kemudian dengan unsur organisasi, maka subyek belajar dapat menata hal – hal tersebut secara bertautan Bersama menjadi suatu pola yang logis, karena mempelajarai sejumlah data sebagaimana adanya, secara bertingkat atau angsur–angsur, siswa mulai memahami artinya dan implikasi dari persoalan – persoalan secara keseluruhan.

    Perlu diingat bahwa pemahaman tidak hanya sekedar tahu akan tetapi juga menghendaki agar siswa dapat memanfaatkan bahan – bahan yang telah dipelajari dan dipahami, kalau sudah demikian maka belajar itu bersifat mendasar. Pemahaman lebih tinggi satu tingkat dari pengetahuan. Pemahaman memerlukan kemampuan menangkap makna atau arti dari satu konsep.

    Kemudian perlu ditegaskan bahwa pemahaman bersifat dinamis, dengan ini diharapkan akn bersifat kreatif. Ia akan menghasilkan imajinasi dan pikiran yang tenang, akan tetapi apaboila subyek belajar betul-betul memahami materiyang disampaikan oleh gurunya, maka mereka akan siap memberikan jawaban-jawaban yang pasti atas pertanyaan-pertanyaan atau berbagai masalah dalam belajar (Sasdiman, 1996:42-45)

    Dalam memahami suatu materi, harus konsentrasi secara penuh terhadap materi tersebut dengan cara memahami tiap-tiap kalimat dan mencerna maksud dari kalimat tersebut. Bisa juga dengan membanyangkan secara langsung hal yang terjadi dalam kalimat tersebut dan hendaknya mengikuti secara rutin aliran suatu materi dengan skema karena jika sutu materi saja terlewat maka pada materi berikutnya kemungkinan besar akan sulit memahaminya.

    1. Recall (pengulangan)

    Mengulang adalah usaha aktif untuk memasukkan informasi kedalam ingatan jangka panjang. Ini dapat dilakukan dengan “mengikat” fakta kedalam ingatan visual, auditorial, atau fisik. Otak banyak memiliki perangkat ingatan. Semakin banyak perangkat(indra) yang dilibatkan, semakin baik pula sebuah informasi baru tercatat. Me-recall tidak hanya terhadap pengetahuan tentang fakta, tetapi juga mengingat akan konsep yang luas, generalisasi yang telah didistribusikan, definisi, metode dalam mendekati masalah. Me-recall, bertujuan agar siswa memiliki kesempatan untuk membentuk atau menyusun kembali informasi yang telah mereka terima (jamarah, 2005:108).

    Orang yang tidak mengulang saat belajar senantiasa memasukkan informasi baru tersebut lepas. Itu membuat belajar menjadi sulit karena aka nada lebih sedikit kata dalam otak yang dapat digunakan untuk mengaitkan atau mengasosiasikan sejumlah informasi baru berikutnya.

    Kegiatan mengulang bisa dilakukan setelah mendapatkan materi tersbut, dapat dilakukan pada waktu sepulang sekolah, waktu istirahat, dan diwaktu-waktu senggang lainnya. Pada kegiatan mengulang ini dapat dengan cara membaca ulang sesuai dengan materi yang telah diberikan, kemudian merangkumnya dengan Bahasa sendiri yang mudah di pahami. Sehingga secara tidak langsung membaca sekaligus menghafal materi yang telah dipelajari.

    1. Digest (penelaahan)

    Keberhasilan suatu proses pengajaran diukur sejauh mana siswa dapat menguasai materi pelajaran yang disampaikan guru. Isi atau materi pelajaran merupakan komponen kedua dalam system pembelajran. Dalam konteks tertertu, materi pelajaran merupakan inti dalam proses pembelajaran. Artinya, sering terjadi proses pembelajaran di artikan sebagai proses penyampaian materi. Hal ini bisa dibenarkan manakala tujuan utama pembelajaran adalah penguasaa materi pembelajaran (subject centere teaching). Untuk dapat menguasai materi pelajaran siswa tidak hanya berpedoman pada satu buku, karena pada dasarnya ada berbagai sumber yang bisa dijadikan sumber untuk memperoleh pengetahuan.

    Sanjaya (2006: 173-174) menyatakan bahwa beberapa sumber belajar yang bisa dimanfaatkan dalam proses belajar di dalam kelas diantaranya adalah :

    1. Manusia Sumber

    Alat dan bahan pengajaran misalnya buku – buku, majalah, koran, dan bahan cetak lainnya, film slide, foto, gambar dan lain – lain.

    1. Berbagai Aktifitas dan Kegiatan
    2. Lingkungan (Setting)
    3. Expand (Pengembangan)

    Expand artinya pengembangan. Dengan pengembangan, maka akan lebih banyak mengetahui tentang hal – hal yang berhubungan dengan materi yang dipelajari. Ada 3 buah pertanyaan yang dapat di ajukan untuk mengkritisi materi tersebut yaitu :

    • Andaikan saya bertemu dengan penulis materi tersebut, pertanyaan atau kritik apa yang hendak saya ajukan ?
    • Bagaimana saya bisa mengaplikasikan materi tersebut ke dalam hal yang saya sukai?
    • Bagaimana saya bisa membuat informasi ini menjadi menarik dan mudah dipahami oleh siswa/mahasiswa lainnya?

     

    1. Review (Pelajari Kembali)

    Pelajari kembali materi pelajaran yang sudah dipelajari. Suatu proses pembelajaran akan berlangsung dengan efektif apabila informasi yang dipelajari dapat diingat dengan baik dan terhindar dari lupa. Mengingat adalah proses menerima, menyimpan dan mengeluarkan kembali informasi yang telah diterima melalui pengamatan, kemudian disimpan dalam pusat kesadaran setelah diberikan tafsiran.

    Proses mengingat banyak dipengaruhi oleh beberapa factor yang meliputi factor individu, factor sesuatu yang harus di ingat, dan factor lingkungan. Dari individu, proses mengingat akan lebih efektif apabila individu memiliki minat yang besar, motivasi yang kuat, memiliki metode tertentu dalam pengamatan dan pembelajaran. Maka dari itulah mempelajari kembali materi yang sudah dipelajari merupakan agar ingatan itu tidak mudah lepas.

    Langkah – langkah penerapan strategi pembelajaran MURDER adalah sebagai berikut :

    1. Langkah pertama berhubungan dengan suasana hati (mood) adalah ciptakan suasana hati yang positif untuk belajar. Hal ini bisa di lakukan dengan cara menentukan waktu, lingkungan dan sikap belajar yang sesuai dengan kepribadian siswa.
    2. Langkah kedua berhubungan dengan pemahaman adalah segera tandai bahan pelajaran yang tidak dimengerti. Pusatkan perhatian pada mata pelajaran tersebut atau ada baiknya melakukan bersama beberapa kelompok latihan.
    3. Langkah ketiga berhubungan dengan pengulangan adalah setelah mempelajari satu bahan dalam suatu mata pelajaran, segeralah berhenti. Setlah itu, ulangi membahas bahan pelajaran itu dengan kata – kata siswa.
    4. Langkah keempat yang berhubungan dengan penelaahan sdalah segera kembali pada bahan pelajaran yang tidak dimengerti. Carilah keteranga mengenai mata pelajaran itu dari artikel, buku teks atau sumber lain. Jika masih belum bisa, diskusikan dengan guru atau teman kelompok.
    5. Langkah kelima berhubungan dengan pengembangan adalah tanyakan pada diri sendiri mengenai tiga masalah di bawah ini, begitu selesai mempelajari satu mata pelajaran, yaitu :
    6. Andaikan bisa bertemu dengan penulis materi, pertanyaan atau kritik apa yang diajukan ?
    7. Bagaimana bisa mengaplikasikan materi tersebut pada hal yang disukai?
    8. Bagaimana bisa membuat informasi ini menjadi menarik dan mudah dipahami oleh siswa lainnya?
    9. Langkah keenam yang berhubungan dengan review adalah pelajari kembali materi pelajaran yang sudah dipelajarai.

     

    METODE PENELITIAN

    Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan dengan mengambil lokasi di SMA Negeri 12 Bandung,dengan pertimbangan :

    1. Di SMA Negeri 12 Bandung metode penerapan model pembelajaran merupakan program baru sehingga perlu adanya penelitian tentang pendekatan pembelajaran yang paling efektif sehingga prestasi siswa pada program tersebut sesuai dengan harapan.
    2. Kemudian dalam pelaksanaan penelitian karena penelitian merupakan staf pengajaran di SMA Negeri 12 Bandung
    3. Adanya ikatan batin yang baik antara peneliti dengan seluruh warga sekolah.

    Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan dari bulan juli sampai dengan bulan oktober, menggunakan jenis perlakuan tindakan kelas (class room action research) dengan menggunakan 2 siklus.

    Subyek dari penelitian tindakan kelas ini adalah siswa kelas XII SMA Negeri 12 Bandung tahun ajaran 2011 – 2012. Pengambilan subyek penelitian ini didasarkan pada kondisi kelas yang mampu mewakili siswa kelas XII program akselerasi secara keseluruhan. Dalam penelitian tindakan kelas ini dalam pengumpulan data digunakan sebagai tehnik antara lain :

    1. Tes Tulis
    2. Alat Pengumpul Data
    3. Deskripsi prilaku ekologis

    Hasil penelitian tindakan kelas ini tercapai sesuai dengan harapan bila dalam penelitian ini :

    1. Pengusaan materi pembelajaran pada akhir penelitian ini meningkat hingga mencapai 90% siswa telah mencapai nilai diatas batas ketuntasan minimal.
    2. Penggunaan strategi pembelajaran merupakan strategi yang efektif untuk mengajarkan materi, dalam hal ini ditandai dengan peningkatan hasil nilai yang didapat masing – masing siswa.

    Sebelum mngadakan tindakan pada penelitian ini, maka peneliti mengadakan observasi cara mngajar guru dalam kelas serta mencari data kemampuan awal penguasaan materi dari siswa.

    Seperti telah dijelaskan sebelumnya bahwasanya pada penelitian tindakan kelas ini dilakukan dalam 2 siklus namun bila dari dua siklus yang direncanakan masih terdapat masalah yang harus dipecahkan maka dapat dilannjutkan dengan siklus berikutnya.

    Pelaksanaan prosedur penelitian yang akan dilakukan oleh peneliti adalah sebagi berikut :

    Deskripsi siklus I.

    1. Tahapan Perencanaan

    Dalam tahapan perencanaan tindakan pada siklus ini, kegiatan yang dilakukan adalah :

    • Penelitian penyusunan silabus yang berkaitan dengan materi
    • Penelitian merancang scenario pembelajaran yang dapat mengaktifkan secara kelompok besar
    • Merancang alat pengumpul data yang berupa tes dan digunakan untuk mengetahui pemahaman kemampuan siswa
    1. Tahapan Pelaksanaan tindakan.
    • Pada siswa diberikan penjelasan umum tentang tujuan penelitian tindakan kelas sesuai dengan rancangan yang telah direncanakan, baik mengenai pengumpulan data maupun kegiatan – kegiatan yang lain.

    Kegiatan dalam penelitian tindakan kelas ini meliputi :

    1. Memberikan penjelasan secara umum tentang pokok bahasan yang diajarkan dengan menggunakan strategi pembelajaran aktif dengan tehnik menstimulir rasa ingin tahu siswa
    2. Mendorong siswa yang belum aktif untuk aktif dalam mengikuti pembelajaran.
    3. Mengamati dan mencatat siswa yang berpartisipasi sktif dalam pembelajaran
    4. Mengumpulkan hasil pengujian yang diperoleh siswa dalam mengajarkan tugas
    5. Menganalisa hasil tes yang diberikan setelah siswa siajar dengan tehnik menstimulir secara kelompok besar.
    • Penelitianmengajar sesuai dengan scenario pembelajaran klasikal yang telah dirancang dan mencatat kegiatan – kegiatan yang dilakukan oleh masing – masing siswa.
    • Penelitian memberikan evaluasi pada siswa untuk mengetahui pemahaman siswa berkaitan dengan materi pembelajaran.
    1. Tahap observasi tindakan.

    Peneliti mengamati dan mencatat semua kejadian yang terjadi pada saat siswa mengikuti pengajaran dan menanyakan pada siswa yang kurang aktif dalam pembelajaran tentang kesulitan – kesulitan yang dihadapinya.

    1. Tahap refleksi

    Peneliti menganalisa hasil pekerjaan siswa dan hasil observasi yang dilakukan pada siswa guna menentukan langkah berikutnya.

    Peneliti membuat pengelompokkan siswa didasarkan pada hasil yang didapat siswa pada evaluasi yang dilakukan.

    Deskripsi Siklus

    1. Tahap perencanaan tindakan

    Mempersiapkan fasilitas dan sarana yaitu dengan membuat kelompok siswa dengan penyebaran siswa yang menguasai materi awal yaitu materi yang telah disampaikan pada siklus I. Membuat pengurus pada masing – masing kelompok mencakup fasilitator, pencatat, juru bicara dan pengaturan waktu. Membuat bahan ajar yang akan disampaikan pada masing – masing kelompok untuk didiskusikan.

    1. Tahap pelaksanaan tindakan.

    Peneliti memberikan penjelasan tentang pokok bahasan yang akan dipelajari serta menjelaskan kegiatan yang akan dilaksanakna berkaitan dengan pengajaran dalam tehnik menstimulir siswa untuk belajar Bersama dalam kelompok. Siswa yang telah menguasai pada materi awal di siklus I dimohonkan memimpin pembahasan bahan ajara yang diberikan peneliti. Bahan ajar yang diberikan berisi tugas memecahkan masalah tindak lanjut dari siklus I. Memberi kesempatan pada masing – masing kelompok untuk menyajikan hasil diskusi pembahasan materi ajar yang siswa dalam satu kelas mengalami kesulitan ataupun dalam apresepsinya.

    Memberikan evaluasi pada siswa untuk mengetahui kemampuan siswa dalam menguasai pengerjaan soal integral.

    1. Tahap observasi tindakan

    Peneliti mencatat hasil – hasil yang diperoleh anak didik serta mencatat kesalahan – kesalahan yang dilakukan anak didik dalam mengajarkan masalah yang berkiatan dengan bahan ajar yang diberikan.

    Peneliti mencatat kesalahan – kesalahan yang dilakukan siswa dalam menyelesaikan masalah pada bahan ajar yang diberikan.

    1. Tahap refleksi

    Peneliti membuat inventarisasi kesulitan yang dilakukan siswa dalam menyelesaikan masalah pada bahan ajaran yang diberikan serta mendata siswa yang telah mampu menyelesaikan soal evaluasi dan mampu mendapatkan nilai diatas standar ketuntasan belajar.

     

    HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

    Sebelum penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan, maka peneliti mengadakan observasi dan pengumpulan datadari kondisi awal kelas yang akan diberi tindakan, yaitu kelas XII SMA Negeri 12 Bandung,tahun pelajaran 2011 – 2012.

    Pengetahuan awal ini perlu diketahui agar kiranya penelitian ini sesuai dengan apa yang diharapkan oleh peneliti, apakah benar kiranya kelas ini perlu diberi tindakan yang sesuai dengan apa yang akan diteliti oleh peneliti yaitu penerapan strategi pembelajaran untuk meningkatkan efektifitas pembelajaran.

    Untuk mengungkap kondisi awal dari kelas yang menjadi objek tindakan kelas ini maka peneliti melakukan langkah – langkah sebagai berikut:

    1. Perencanaan

    Untuk mengetahui kondisi awal dari kelas XII SMA Negeri 12 Bandung tahun 2011 – 2012 maka peneliti merencanakan observasi langsung pada pengajaran yang dilakukan oleh guru pengajar pada saat mengajarkan materi. Observasi langsung pada pengajaran yang dilakukan guru dilakukan untuk mengetahui strategi pembelajaran yang digunakan oleh guru pengajar saat menyampaikan materi pembelajaran. Peneliti membantu guru pengajar menyiapkan alat tes yang akan digunakan sebagai alat untuk mengukur kemampuan penguasaan awal materi dari siswa.

    1. Pelaksanaan

    Pelaksanaan untuk mengukur kemampuan awal siswa dilaksanakan di awali pengajaran yang dilakukan oleh guru Pengajar dikelas XII SMA Negeri 12 Bandung yang mengajarkan dengan menggunakan metode ceramah. Pada pembelajaran ini peneliti mengamati kejadian – kejadian yang terjadi secara rinci pada saat guru memaparkan materi pembelajaran. Dalam menyampaikan materi guru memerlukan waktu 1 jam pelajaran dan 15 menit untuk pemberian contoh, selanjutnya guru memberikan pottest dengan menggunakan soal yang telah dirancang sebelumnya. Pada pelaksanaan ini peneliti dan guru pengajar Bersama – sama mengawasi kerja siswa dalam mengerjakan soal yang diberikan, sehingga keakuratan dari hasil pengawasan dapat dipertanggungjawabkan.

    1. Hasil Pengamatan

    Berdasarkan observasi yangdilakukan oleh peneliti didapatkan bahwa pada pengajaran yang dilakukan, guru masih menggunakan cara pengajaran yang tradisional yaitu guru sebagai pusat pembelajaran dan pengajaran materi tersebut diajarkan dengan menggunakan metode ceramah. Pada pembelajaran berlangsung terlihat siswa asyik dengan kegiatannya sendiri yangtidak ada kaitannya dengan apa yang disampaikan guru. Justru masih terlihat anak – anak yang bermain – main dengan temannya tanpa mempedulikan apa yang disampaikan oleh guru pengajar.

    Dan dari hasil pengajaran siswa pada alat tes yang telah dirancang oleh guru setelah diadakan koreksi maka didapatkan hasil yang kurang memuaskan. Hasil koreksi tes awal dari siswa yang di didik yang ada di kelas tersebut didapatkan hasil, siswa yang mendapatkan nilai rata – rata harian tertinggi adalah 65, niali terendah 40, dan nilai rata – rata nya adalah 56,45 sedangkan siswa yang telah tuntas atau mendapatkan nilai di atas batas ketuntasan belajrnya tidak banyak.

    1. Refleksi

    Dari kondisi awal yangada tersebut maka perlu diadakan suatu tindakan untuk mengangkat kemampuan penguasaan materi dari siswa kelas XII SMA Negeri 12 Bandung.

    Berdasarkan tanya jawab yang dilakukan peneliti terhadap siswa, terungkap bahwa sisa mempunyai kelemahan pada pengembangan sskill pengerjaan suatu masalah karena kurangnya siswa diberi kesempatan untuk berlatih dalam menyelesaikan masalah – masalah, sehingga siswa minta untuk diberi kesempatan untuk menyelesaikan masalah sebelum guru pengajar menyelesaikannya.

    Bertolak dari kondisi awal tersebut maka peneliti merencanakan tindakan penelitian dengan menerapkan starategi pembelajaran aktif pada pembelajaran materi di kelas dengan memperlakukan pembelajaran aktif pada kelompok besar.

     

    • Deskripsi Siklus I.

    Untuk melakukan penelitian pada siklus I ini peneliti beserta guru pengajar merencanakan tindakan yang meliputi :

    1. Membuat silabus materi pembelajaran
    2. Membuat rancangan program pengajaran yang diperuntukan untuk pengajaran pada kelompok besar. Rancangan program yang dibuat digunakan untuk pengajaran 2 x 45 menit dengan rincian (1) apresiasi 10 menit (2) Kegiatan inti berisi pengerjaan lembar kerja dan mengaktifkan siswa dengan metode tanya jawab selama 40 menit (3) Penutup 5 menit (4) evaluasi 35 menit
    3. Membuat lembaran kerja siswa yang digunakan untuk mengaktifkan siswa dalam belajar dengan penyusunan tahap demi tahap yang membawa siswa dalam penemuan masalah atau penyelesaian suatu masalah.
    4. Membuat alat evaluasi yang digunakan untuk mendapatkan data kemampuan siswa setelah mendapatkan tindakan dengan menggunakan strategi yang diperuntukan untuk kelompok besar
    5. Membuat solusi dan langkah untuk disampaikan pada siswa berkaitan kelemahan siswa dalam menyelesaikan maslah yangtelah di ujikan oleh guru Pengajar
    6. Pelaksanaan Tindakan.

    Pelaksanaan tindakan pada siklus I, penelitian melakukan kegiatan sesuai denga apa yang telah direncanakan, dimuali dengan penjelasan pada siswa tentang kegiatan yang harus dilakukan oleh siswa dalam mengikuti kegiatan.

                Berdasarkan informasi yang telah didapatkan peneliti pada saat observasi pengajaran yang dilakukan oleh guru pengajar maka peneliti menyampaikan kelemahan dan kekurangan – kekurangan yang dilakukan siswa dalam menyampaikan pembelajaran yang diujikan dengan menggunakan metode tanya jawab.

         Peneliti membagikan lembar kerja yang telah dirancang oleh peneliti untuk diselesaikan siswa secara keseluruhan dan peneliti berkeliling untuk mengamati cara kerja siswa serta membantu siswa yang mengalami masalah dalam menyelesaikan lembar kerja yang dibagikan.

    Pada saat pelaksanaan menyelesaikan lembar kerja yang siswa tampak beberapa siswa saling berkomunikasi dengan teman terdekatnya tentang cara penyelesaian dari lembar kerja yang dibagikan.

    Sambil berkeliling peneliti mencatat hambatan – hambatan yang terjadi pada saat siswa mengerjakan kerja tersebut selain itu peneliti juga mencatat siswa – siswa yang aktif.Pada akhir pengajaran yaitu 35 menit terakhir dari pembelajaran peneliti memberikan post test yang harus dilaksanakan oleh seluruh siswa secara individual.

    1. Hasil Pengamatan

    Setelah lembar kerja yang mengarahkan siswa untuk menemukan suatu masalah maka tampak siswa antusias dalam mengerjakan kegiatan tersebut.

    Pada pengerjaan lembar kerja yang dibagikan ini tak terlihat adanya siswa yang bermain – main ataupun asyik mengerjakan pekerjaan yang lain, semuanya asyik dalam mengerjakan lembar kerja yang dibagikan.

    Pada pelaksanaan pengerjaan lembar tersebut tampak adanya siswa yang mengalami hambatan dalam menyelesaikan bertanya pada teman dekatnya, namun ada pula siswa yang mengalami hambatan dalam mengerjakan lembar kerja tersebut langsung bertanya kepada peneliti dan guru pengajar.

    Pada pengerjaan lembar kerja ditemukan siswa yang belum memahami

    Pada post test yang diberikan setelah dikoreksi oleh guru pengajar dan peneliti didapatkan hasil sebagai berikut :

     Dari siswa didik yang ada di kelas tersebut didapatkan hasil, siswa yang mendapatkan nilai rata – rata harian tertinggi adalah 75, nilai terendah 50, dan rata ratanya adalah 65,48 sedangkan siswa yang telah tuntas atau mendapatkan nilai di atas batas ketuntasan belajarnya sudah banyak.

     

     

    4.3 Deskripsi Siklus II

    1. Perencanaan

    Pada perencanaan siklus ini peneliti dan guru merencanakan tindakan sebagai berikut :

    1. Membuat kelompok kecil yang terdiri dari 4 anak masing – masing kelompok dipimpin oleh anak yang dipilih dari anak yang punya kemampuan lebih dan mampu memimpin.
    2. Membuat rancangan pembelajaran materi untuk kelompok kecil yang dipergunakan bagi pengajaran selama 90 menit.
    3. Membuat 2 lembar kerja yang dipergunakan untuk diskusi kelompok
    4. Merencanakan alat evaluasi yang berupa soal tes yang digunakan unt kemampuan siswa.
    5. Pelaksanaan Tindakan

    Seperti yang telah direncanakan maka peneliti melaksanakan tindakan siklus II, pada tindakan di siklus II inidiawali penjelasan kepada siswa tentang prosedur yang akan dilaksanakan pada pembelajaran untuk kelompok kecil.

    Peneliti membagi kelompok yang terdiri dari 4 siswa dan menentukan ketua dari masing – masing kelompok tersebut, selanjutnya siswa berkumpul menurut kelompok masing – masing.

    Setelah siswa telah berkumpul dengan kelompoknya maka peneliti membagikan lembar kerja siswa untuk didiskusikan bersama dari masing – masing kelompok, pada saat siswa mulai berdiskusi peneliti berkeliling untuk mencatat kesalahan – kesalahan yang dilakukan kelompok untuk dibimbing serta mencatat siswa – siswa yang pasif agar bisa diajak aktif oleh kelompoknya.

    Setelah waktu yang ditentukan pada lembar kerja habis makan peneliti meminta perwakilan kelompok untuk mempersentasikan hasil kerjanya dan kelompok lain diminta menanggapi apa yang telah dipresentasikan, pada kesempatan ini peneliti memandu jalannya diskusi dan bersama – sama siswa merumuskan jawaban.

    1. Hasil Pengamatan

    Pada pelaksanaan siklus II ini tampak sekali bahwa siswa sangat antusias dalam mengerjakan tugas kelompok, semua siswa terlihat aktif Bersama kelompoknya dalam menyelesaikan lembar kerja yang diberikan peneliti.

    Pada saat diskusi pembahasan materi yang diberikan satu kelompok untuk ditanggapi oleh kelompok lain, kadang terlihat perbedaan pola berfikir dari masing – masing individu dalam menyampaikan ide pemecahan masalah yang diberikan.

    Berdasarkan evaluasi yang dilaksanakan setelah dikoreksi didapatkan hasil angka sesuai dengan indikator pencapaian hasil yang diharapkan.

    1. Refleksi

    Dari hasil evaluasi yang diberikan selama 1 jam pelajaran atau 45 menit ternyata siswa telah mampu mendapatkan nilai di atas batas ketuntasan minimal namun masih terlihat kesalahan yang dibuat oleh siswa dikarenakan factor kekurang telitian siswa dalam bekerja.

    Masalah skill dan kecermatan dalam mengambil langkah pengerjaan masih perlu ditingkatkan agar penguasaan materi dapat lebih baik lagi.

    Keaktifan dari siswa secara keseluruh telah sesuai yang diharapkan oelh peneliti karena dalam mengerjakan lembar kerja secara kelompok ini 99 % telah aktif dalam pembahasan lembar kerja yang diberikan.

     

    • Deskripsi Antar Siklus

    Berdasarkan hasil pelaksanaan tindakan mulai pemantauan keadaan awal hingga pelaksanaan tindakan pada siklus II maka dapat digambarkan seperti dibawah :

     

     

    No

     

    Indikator

    Presesntasi yang dicapai

    Awal

    Siklus I

    Siklus II

    1

    Siswa dapat menyatakan materi pembelajaran

    53,57 %

    71,43 %

    96,43 %

    2

    Siswa dapat menggunakan materi pembelajaran untuk menyelesaikan masalah

     

    67,85 %

    89,29 %

    3

    Siswa dapat menyelesaikan soal materi pembelajaran

     

     

    92,85 %

     

    • Pembahasan dan Kesimpulan

    Dari table antar siklus diatas tampak adanya hasil dari masing – masing indikator yang harus dikuasai siswa setelah diberi tindakan mengalami peningkatan yang sangat luar biasa. Peningkatan hasil penguasaan materi pembelajaran ini bila dilihat dari tindakan yang dilakukan telah sesuai dengan pendapat Vygotsky, aktivitas kalaboratif (perpaduan) di antara anak – anak akan mendukung dan membantu dalam pertumbuhan mereka, karena anak – anak yang seusia lebih senang bekerja dengan orang yang satu zone (zone of proximal development,zpd) dengan yang lain, artinya proses muncul ketika ada ketertarikan antara sesame anggota kelompok yang seusia. Jika anak nyamamn dalam belajarnya maka akan diperoleh hasil belajar yang baik. Dalam hal ini sebagaian besaraktivitas pembelajaran berpusat pada siswa, yakni mempelajari materi pembelajaran, berdiskusi untuk memecahkan masalah atau tugas. Dengan interaksi yang efektif dimungkinkan semua anggota kelompok dapat menguasai materi pada tingkat setara.

     

    KESIMPULAN DAN SARAN

    1. Kesimpulan

                Berdasarkan hasil penelitian tentang perbaikan pembelajaran pada mata pelajaran IPS Sosiologi yang massing – masing terdiri dari 2 tindakan serta melakukan pengamatan pada kegiatan tersebut, diperoleh kesimpulan sebagai berikut :

    1. Prestasi belajar siswa sebelum menggunakan variasi metode pembelajaran selalu menunjukan prestasi yang kurang memuaskan.
    2. Aktifitas siswa selama proses pembelajaran dengan metode strategis pembelajaran aktif menunjukan perubahan yang positif. Terbukti dengan keaktifan dan keterlibatan dari siswa baik secara fisik, mental emosional dan kemampuan intelektual.
    3. Pada proses pembelajaran guru harus banyak memberikan contoh pengerjaan soal yang bervariasi dan mengikut sertakan siswa dalam proses penyelesaian soal – soal tersebut dengan menunjuk beberapa orang siswa untuk belajar menyelesaikannya sesuai dengan kemampuan masing – masing dengan bimbingan guru.
    4. Selama proses pembelajaran mulai tindakan I sampai II peneliti berusaha memotivasi setiap siswa pada semua kelompok dengan intensif dan adil supaya setiap siswa berpartisipasi menyimak, menjawab, memberi sanggahan dan masukan selama diskusi berlangsung, selanjutnya menuliskan jawaban hasil diskusi tersebut pada lembar jawaban secara mandiri.
    5. Guru dapatmenemukan berbagai metode pembelajaran yang menarik pada mata pelajaran IPS Sosiologi dengan tujuan agar siswa lebih interaktifdi masa sekarang dan yang akan datang.

     

    1. Saran

    Berdasarkan kesimpulan – kesimpulan di atas dalam rangka menentukan kualitas pembelajaran sebaiknya yang dilakukan oleh guru untuk mencapai tujuan mengaktifkan siswa dalam kelas dan meningkatkan daya serap siswa pada materi pelajaran, diantaranya adalah :

    1. Memilih metode pembelajaran sesuai topik yang disampaikan.
    2. Mengorganisasikan siswa dalam pembelajaran.
    3. Mengadakan latihan – latihan dan pemberian tugas.

    Selain daripada itu, berdasarkan kesimpulan di atas, seyogyanya para guru Sekolah Menengah Atas memiliki kemampuan dalam meningkatkan kualitas pembelajaran untuk mencapai keberhasilan yang optimal.

    Kepala Sekolah sebagai pemimpin di Sekolah juga harus mampu menyediakan alat – alat peraga dan media pembelajaran di sekolahnya sebagai pendukung proses peningkatan prestasi belajarsiswa dan penunjang Guru dalam proses pembelajaran di kelas.

     

     

     

     

    DAFTAR PUSTAKA

     

    Ahmad Riva’I dan Nana Sudjana, 1990 Media Pengajaran Sinar Baru:Bandung

     

    Depdiknas. 2008. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Edisi IV. Jakarta: Gramedia Utama

     

    Gilkey, R.et al. (1996) Definisi Teknologi Pendidikan diterjemahkan oleh Hikmat, H (2001 ) Strategi Pemberdayaan Masyarakat Bandung : Humaniora Utama.

     

    Retno, 2003 Media Pendidikan dan Model Pembelajaran, Pengertian Pengembangan dan Pemanfaatan Rajawali Jakarta

     

    Sudikin, 2002 Manajemen PenelitianTindakan Kelas Insan Cendikia Jakarta

     

    Udin SW 1992 Strategi Belajar Mengajar Depdikbud Jakarta

     

    Wahyudi. (2006). Tingkatkan Pemahaman siswa terhadap materi Pembelajaran

     

    http:/www. Bruderfic.or.id/h-129/motivasi-belajar-siswa_html, diakses 23 Juni 2009

     

     

    [1]  Guru Mata Pelajaran Sosiologi SMUN 12 Bandung 

    © 2017 Sekolah Menengah Atas Negeri 12 Bandung