Jurnal : UPAYA MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN PRESTASI BELAJAR SISWA PADA BIDANG STUDI IPS SOSIOLOGI MELALUI PENERAPAN METODE PEMBELAJARAN ANTI GALAU DAN COOPERATIFE LEARNING TYPE STAD

    UPAYA MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN PRESTASI BELAJAR

    SISWA PADA BIDANG STUDI IPS SOSIOLOGI MELALUI

    PENERAPAN METODE PEMBELAJARAN ANTI GALAU DAN

    COOPERATIFE LEARNING TYPE STAD

     

    Oleh :

     Fafarina

    NIP. 19621110 198811 2 001

     

    ABSTRAK

     

    Tujuan penelitian ini dilatar belakangi bahwa sebagian besar siswa kelas XII – IPS SMA Negeri 12 Bandung merasa kesulitan dalam pembelajaran dengan demikian penulis mencoba melakukan penelitian untuk mengetahui adanya : Pengaruh penggunaan model pembelajaran terhadap prestasi belajar siswa. Pengaruh kemampuan awal siswa kategori rendah, kategori sedang, dan kategori tinggi terhadap prestasi belajar siswa. Interaksi antara metode mengajar dengan kemampuan awal siswa terhadap prestasi belajar.

    Sample diambil secara acak dengan memperhatikan strata atau tingkat kemampuan awal siswa. Kelompok control terdiri dari 43 siswa. Pengumpulan data menggunakan teknik tes untuk mendapatkan nilai kemampuan awal dan nilai prestasi belajar (ranah psikomotorik dan kognitif) dan teknik non tes berupa angket untuk mendapatkan nilai prestasi belajar.

    Penelitian ini bertujuan untuk memberikan tambahan informasi dan pemikiran tentang salah satu dari sekian banyak metode pembelajaran yang dapat diterapkan untuk meningkatkan kompetensi siswa,Keberhasilan penerapan model,pemilihan media ,strategi, maupun pendekatan pembelajaran tentunya dipengaruhi oleh berbagai faktor. Namun penelitian ini setidaknya memberikan gambaran bagaimana seorang guru berusaha untuk meningkatkan hasil belajar siswa melalui proses pembelajaran yang berkualitas.

     

     

    1. PENDAHULUAN

    Latar Belakang Masalah

    Banyak kalangan pelajar menganggap belajar adalah aktivitas yang tidak menyenangkan, duduk berjam – jam dengan mencurahkan perhatian dan pikiran pada suatu pokok bahasan, baik yang sedang disampaikan guru maupun yang sedang dihadapi di meja belajar. Kegiatan ini hampir selalu dirasakan sebagai beban daripada upaya aktif untuk memperdalam ilmu.

    Mereka tidak menemukan kesadaran untuk mengerjakan seluruh tugas – tugas sekolah. Banyak diantara siswa yang menganggap, mengikuti pelajaran tidak lebih sekedar rutinitas untuk mengisi daftar absensi, mencari ilmu, melewati jalan yang harus ditempuh, dan tanpa diiringi kesadaran untuk menambah wawasan ataupun mengasah keterampilan.

    Menurunnya gairah belajar, selain disebabkan oleh ketidaktepatan metodologis, juga berakar pada paradigma pendidikan konvensional yang selalu menggunakan metode pengajaran klasikal dan ceramah, tanpa  pernah di selingi berbagai metode yang menantang untuk berusaha. Termasuk adanya penyekat ruang struktural yang begitu tinggi antara guru dan siswa.

    Selama ini proses belajar mengajar di SMA Negeri 12 Bandung seperti yang penulis perhatikan siswa masih sebagai penerima informasi. Mereka kurang dilibatkan dalam proses belajar mengajar, hanya beberapa guru saja yang menerapkan pemahaman bahwa siswa dapat dijadikan sebagai sumber belajar. Padahal sekarang banyak metode belajar yang menawarkan berbagai macam bentuk yang semuanya menerapkan konsep bahwa siswa bukan sebagai wawdah atau bejana yang hanya dijejali ilmu saja tanpa diberi kesempatan untuk ikut menyumbang kemampuannya dalam pembelajaran. Maka dari itu, penulis sangat berminat mencoba metode dalam belajar yang baru selain ceramah atau metode konvensional. Di kehidupan anak muda sekarang muncul berbagai macam istilah gaul, diantaranya “galau”. Sebutan untuk anak muda yang sedang resah, gelisah, memikirkan pujaan hatinya karena tidak kunjung SMS, galau karena diputus pacar dan sebagainya. Penulis menangkap istilah galau dan ditambahi kata “anti” yang berarti tidak memihak, anti galau dapat diartikansebagai tidak mudah resah, santai tetap enjoy menikmati pelajaran. Anti Galau merupakan kependekan dari Aktif, Nasionalis, Teoritis, Inspiratif, Gotong – royong , Atraktif, Luhur, Agamis dan Unik. Metode yang utama digunakan adalah metode STAD yang cara kerjanya melibatkan seluruh siswa dikelas, tidak hanya siswa yang pintar secara akademik saja. Anti Galau diterpkan pada kegiatan STAD, dan kepanjangan dari Anti Galau merupakan sifat – sifat karakter bangsa Indonesia dan unsur sifat – sifat modern dalam pendidikan misalnya atraktif. Diharpakan dengan model ini siswa tetap menghormati karakter budaya bangsa dengan tetap up to date mengikuti arus globalisasi, mampu berdiskusi dan menghargai pendapat melalui metode STAD dan menjadi insan yang memiliki nilai – nilai dan kepribadian yang luhur.

    Berdasarkan latar belakang dan identifikasi masalah diatas  , permasalahan yang ada dapat dirumuskan sebagai berikut :

    1. Bagaimana menggunakan model Anti Galau sebagai pendamping pembelajaran cooperatif learning tipe STAD dapat meningkatkan kualitas pembelajaran sosiologi?
    2. Apakah penggunaan model Anti Galau sebagai pendamping pembelajaran tipe STAD amampu meningkatkan kemampuan kognitif dan afektif siswa terhadap materi sosiologi ?

     

     

    1. TINJAUAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS

    Kerangka Teoritis

    Pada bab pendahuluan telah disampaikan bahwa model ANTI GALAU adalah singkatan dari Aktif, Nasionalis, Terampil, Inspiratif, Gotong royong, Atraktif, Luhur, Adil dan Ulet.Penulis menerapkan model ini sebagai pendamping pembelajaran cooperative learning tipe STAD. Sebelumnya penulis telah mencoba menggunakan tipe STAD dalam pembelajaran, tetapi, sebagai upaya menambah semangat siswa dalam kegiatan belajar mengajar , penulis menambahkan unsur – unsur karakter bangsa Indonesia kemudian dirangkai menjadi sebuah gagasan yang masih “in” di kalangan siswa yang notabene merupakan usia remaja dan dikehidupan sehari – hari seringkali mengucapkan kata – kata gaul, Gaul adalah salah satumya, dan penulis berharap siswa tidak merasakan galau ketika mengikuti pelajaran sosiologi yang selama ini di anggap pelajaran membosankan karena banyak hafalan dan analisis yang berparadigma ganda.

    Adapun kepanjangan dari arti kata dari anti galau peneliti dapatkan dari website artikata.com. Peneliti juga mengambilnya dari Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata – kata tersebut antara lain :

    1. Aktif, giat (bekerja, berusaha): dinamis atau betenaga mampu bereaksi dan breaksi dan kesibukan.
    2. Nasionalis, Pencinta nusa dan bangsa sendiri;
    3. Terampil, cakap dalam menytelesaikan tugas mampu dan cekat; me-ne-ram-pil-kan v membuat mnjadi terampil; memberikan keterampilan; menulis, membaca, menyimak, atau berbicara; ~tematis Ling kesanggupan pemakaian bahasa untuk menanggapi secara betul stimulus lisan dan tulisan, menggunakan pola gramatikal dan kosakata secara tepat, menerjemahkan dari satu bahasa ke bahasa lain, dsb.
    4. Inspiratif, ilham; meng-in-spi-ra-si v menimbulkan inspirasi; mengilhami; meng-in-spi-ra-si-kan v menjadikan inspirasi;ter-in-spi-ra-si v telah diinspirasi;terilhami;
    5. Gotong-royong, Bekerja sama-sama (tolong- menolong, bantu- membantu): ber-go-tong ro-yong v bersama-sama mengerjakan atau membuat sesuatu;

    perihal bergotong royong: cara kerja yang rasional dan efesien akan dibina tanpa meninggalkan suasana~

    1. Atraktif, mempunyai daya tarik; bersifat menyenangkan:
    2. Luhur, tinggi;mulia:

    me-lu-hur-kan v menganggap (memandang dsb) luhur; memuliakan; menghormati: ) m~tanah airnya; ~budinya membuat setiap orang meng hor matinya; ~jiwa kemuliaan atau kebesaran jiwa:~ jiwa seseorang dapat diketahui dari tingkah lakunya.

    1. Adil, 1 sama berat; tidak berat sebelah; tidak memihak;2 berpihak kepada yang benar: berpegang pada kebenaran: 3 sepatutnya; tidak sewenang-wenang: meng-a-dili v memeriksa, menimbang dan memutuskan (perkara, sengketa); menentukan mana yang benar (baik) dan mana yang salah (jahat): , teradil paling (sangat) adil ; teradil ; dapat – sosial kerja sama untuk menghasilkan masyarakat yang bersatu secara organis sehingga setiap anggota masyarakat memiliki kesempatan yang sama dan nyata untuk tumbuh dan belajar hidup pada kemampuan aslinya; berkeadilan mempunyai keadilan.
    2. Ulet, 1 liiat;kuat (tidak mudah putus, tidak tegas): 2 tidak mudah putus asa yg disertai kemauan keras dan berusaha mencapai tujuan dan cita – cita, keuletan dan prihal ulet.

    Pembelajaran kooperatif tipe Student Teams Achievement Division (STAD) yangdikembangkan oleh Robert Slavina dan teman – temannya di Universitas Jhon Hoqkin (dalam Slavina,1995) merupakan pembelajaran cooperatif yang cocok digunakan oleh guru yang baru mulai menggunakan pembelajaran cooperatif. Pembelajaran coopertativ tipe STAD terdiri dari lima tahapan utama sebagai berikut:

    Pembelajaran Cooperatif Tipe Student Teams Achievement Division (STAD) yang di kembangkan oleh Robert Sl;avin dan teman – temannya di Universitas John Hoqkin (dalam Slavin, 1995) merupakan pembelajaran cooperative yang cocok digunakan oleh guru yang baru mulai menggunakan pembelajaran cooperatif. Pembelajaran cooperative tipe STAD terdiri dari lima tahapan utama sebagai berikut:

    1. Presentasi kelas. Materi pelajaran dipresentasikan oleh guru dengan menggunakan metode pembelajaran. Siswa mengikuti presentasi guru dengan seksama sebagai persiapan untuk mengikuti tes berikutnya.
    2. Kerja kelompok. Kelompok terdiri dari 4-5 orang. Dalam kegiatan kelompok ini, para siswa bersama - sama mendiskusikan masalah yang dihadapi, membandingkan jawaban, atau memperbaiki miskonsepsi.

    Kelompok diharapkan bekerjasama dengan sebaik – baiknya dan saling membantu dalam memahami materi pelajaran.

    1. Setelah kegiatan presentasi guru dan kegiatan kelompok, siswa diberikan tes secara individual. Dalam menjawab tes, siswa tidak diperkenankan saling membantu.
    2. Peningkatan skor individ. Setiap anggota kelompok diharapkan mencapai skor tes yang tinggi karena skor ini akan memberikan kontribusi terhadap peningkatan skor rata – rata kelompok.
    3. Penghargaan kelompok. Kelompok yang mencapai rata – rata skor tertinggi, diberikan penghargaan.

                Berdasarkan pengamatan dilapangan Nampak bahwa pada umumnya proses belajar mengajar Sosiologi dikelas masih berjalan monoton, konvensional, kualitas pembelajaran, dan prestasi siswa untuk pembelajaran Sosiologi rendah. Melihat situasi yang demikian, perlu menggalang bpartisipasi siswa dalam KBM baik partisipasi kontribusi maupun inisiatif. Sitem STAD dan model ANTIGALAU diharapkan mampu memecahkan masalah ini. Metode yang digunakan tidak lagi konvensional akan tetapi lebih bersifat variatif dan partisipatoris, kualitas pembelajaran sosiologi meningkat, dan prestasi siswa untuk mata pelajaran sosiologi meningkat.

     

    • PELAKSANAAN PENELITIAN

    Setting penelitian menunjukan tempat di mana penelitian dilaksanakan. Penelitian tidakan kelas ini adalah di SMA Negeri 12 Bandung.Siswa SMA Negeri 12 Bandung beragam dari segi ekonomi maupun desa tempat tinggal. Ada yang dekat dengan sekolah tetapi ada juga siswa yang rumahnya terbilang jauh dari sekolah. Materi dipilih untuk kelas XII semester satu. Penelitian memilih kelas XII – IPS 1 sebagai kelas yang akan diberikan pembelajaran dengan STAD. Penelitian dilaksanakan dengan rancangan penelitian tidakan kelas yang dalam pelaksanaannya secara garis besar terdapat empat tahap kegiatan yaitu perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Dalam penelitian ini terdapat dua variable yaitu siswa dan variable guru. Variabel siswa dalam penelitian ini adalah hasil belajar yang berupa prestasi hasil belajar siswa, keaktifan siswa, kerjasama dan memotivasi siswa dalam bentuk nilai pada pembelajaran sosiologi. Sedangkan variable guru dalam penelitian ini adalah mengamati guru dalam pengelolaan kelas selama proses berlangsung.

    Subyek penelitian adalah subyek yang dituju untuk diteliti oleh pemeliti. Subyek analisi yaitu subyek yang menjadi pusat perhatian peneliti (Arikunto, 2002: 122).

    Subyek penelitian dalam penelitian ini adalah siswa kelas XII – IPS 1 semester satu   SMA   Negeri 12 Bandung.

    Sumber data dalam penelitian adalah subjek dari mana data diperoleh (Arikunto, 202 : 107), sumber data penelitian itu adalah :

    1. Informan

    Informan adalah individu – individu tertentu yang di wawancarai untuk keperluan informasi atau keterangan atau data yang diperlukan oleh peneliti. Informan ini di pillih dari orang – orang yang betul – betul dapat dipercaya dan mengetahui objek yang diteliti (Koentjaraningrat, 1993 : 130)

    1. Angket Tes

    Kusioner dalam bentuk tes digunakan untuk mengetahui hasil belajar siswa apakah ada peningkatan setelah guru menggunakan model pembelajaran tipe STAD. Guru membagi tes dan memberi cukup waktu bagi siswa untuk menyelesaikannya. Guru juga membiarkan siswa  untuk bekerjasama dalam mengerjakana tes. Pada tahap ini siswa bekerja menujukkan apa yang telah mereka pelajari secara individu.

    Selain itu guru juga memberikan angket tentang minat pembelajaran kepada siswa, sering siswa dalam mengisi angket ,atau bahkan pada penelitian lainnya responden dalam menjawab tidak jujur dan terkesan asal jawab. Tetapi guru meyakinkan kepada responden (siswa) bahwa mereka dijamin kerahasiaan.asehingga dalam menjawab angket siswa lebih jujur.

    1. Penghargaan kelompok

    Menentukan nilai individu dan nilai kelompok dan penghargaan kelompok

    1. Menentukan Nilai Individu dan Kelompok

    Setelah dilaksanakan tes, di tentukan nilai individu dan kelompok serta memberikan penghargaan pada kelompok yang memiliki nilai tinggi. Jika memungkinkan umumkan nilai kelompok yang diperoleh pada periode setelah pelaksanaan tes. Hal ini akan membuat hubungan anatara hasil pelaksanaan pekerjaan yang baik dengan penerimaan penghargaan dari para siswa sehingga akan meningkatkan motivasi mereka untuk melakukan yang terbaik.

    1. Nilai Peningkatan

    Siswa memperoleh nilai peningkatan. Untuk kelompok berdasarkan tingkat dimana nilai tes mereka (peningkatan jawaban benar) melebihi  nilai dasar mereka.

     

    Tabel 3.1

    Peningkatan NIlai Dalam STAD`$

    Nilai Tes

    Nilai Peningkatan

    Lebih dari 10 dibawah nilai dasar

    10 nilai sampai 1 nilai dibawah nilai dasar

    Nilai dasar sampai nilai 10 diatasnya

    Lebih dari 10 nilai diatas nilai dasar

    Sempurna (tanpa menghitung nilai dasar)

    5

    10

    20

    30

    40

                                             

    Sebelum mulai menentukan nilai peningkatan, diperlukan satu lembar Salinan tes. Tujuan dari pemberian nilai dasar dan poin peningkatan ini adalah untuk memungkinkan semua siswa memberikan nilai maksimum pada kelompoknya masing-masing apapun hasil prestasi pencapaian yang mereka peroleh sebelumnya. Siswa memahami bahwa cukup adil untuk membandingkan masing-masing siswa yang tingkat prestasi mereka sebelumnyakarena semua siswa masuk kelas dengan tingkat kemampuan dan pengalaman yang berbeda.

     

     

    1. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

    Berikut ini tipikal anak-anak SMA Negeri 12 Bandung (pengamatan dimulai peneliti mengajar):

    1. Tidak menghargai waktu
    2. Tidak disiplin murni
    3. Tidak mempunyai jiwa kompetitif
    4. Kurang berorientasi pada proses
    5. Suka menerabas
    6. Sulit untuk diajak berpakaian rapi
    7. Budaya membaca yang rendah
    8. Menerima IPTEK tanpa filterasi

    Peneliti menyadari bahwa mengubah mental yang sudah membudaya tidak semudah membalikan telapak tangan. Tugas guru tidak hanya mengejar ilmu akademik, tetapi lebih dari itu guru juga tidak boleh menutup mata mengenai keadaan peserta didiknya dari segi apapun, ekonomi, budaya, social, dan lainnya. Melalui mata pelajaran sosiologi, peneliti berusaha mendekati siswa dengan tanpa kekerasan(non Koersif). Jika siswa mulai senang dan berniat terhadap sebuah ilmu, mka aka nada sugesti yang akan diterima siswa dari pengampu matapelajaran tersebut, hal itulah yang sedang peneliti lakukan. Materi perubahan

    Social dipilih karena materi ini pada dasarnya mengajarkan tentang proses belajar, membiasakan sebuah pengetahuan apapun kepada sebuah generasi yang baru.

    1. Deskripsikan Data Tindakan I

    Hasil penelitian dikemukakan berdasarkan penelitian dari setiap siklus pembelajaran yang dilaksanakan tahun pelajaran 2009/2010 pada kelas XII-IPS 1/SMA Negeri 12 Bandung dengan mengambil data tentang tingkat kemampuan siswa dalam mengerjakan tugas secara berkelompok. Dalam penelitian ini dimulai tahap awal sampai dengan tahap akhir.

    Yang dimaksud dengan tindakan tahap awal adalah tahapan sebelum menggunakan pembelajaran dengan pemberian Graded Insentive Reward, sedangkan yang dimaksud dengan tahap akhir adalah tahapan perbaikan pembelajaran dengan menggunakan pembelajaran dengan pemberian Graded Insentive Reward yang meliputi: tindakan 1 yakni pembelajaran dengan menggunakan pembelajaran dengan pemberian Graded Insentive Reward, dan siklus 2 yaitu pembelajaran yang menggunakan pembelajaran dengan pemberian Graded Insentive Reward dengan mengacu pada refleksi siklus 1, sehingga terdapat penyempurnaan scenario.

    Sebagai tindak lanjut untuk membantu memecahkan masalah atau kesulitan siswa dalam memahami dan mengerti, penyebab pembelajaran yang belum berhasil adalah :

    1. Sebagian besar siswa belum mengerti tentang materi pembelajaran
    2. Penggunaan media belum optimal
    3. Pembelajaran kurang memotivasi anak lebih aktif
    4. Siswa mempunyai rasa malas, jenuh dan bosan

    Dengan demikian peneliti melakukan perbaikan pembelajaran dengan menggunakan metode pembelajaran “Student Team Achievement Division”.

     

    • Pelaksanaan Tindakan I

    Proses pembelajaran pada siklus I dimulai dengan memberikan informasi dan tujuan kegiatan belajar yang akan dilaksanakan yaitu menggunakan model “ Student Team Achievement Division”. Kemudian guru membagi siswa menjadi beberapa kelompok, pengaturan kelompok berdasakan skor awal, masing-masing kelompok terdiri dari 4-6 orang.

    Selanjutnya guru menugaskan kepada siswa untuk melaksanakan percobaan sesuai dengan LKS sambal melaksankn diskusi kelompok, mengolah data. Guru mendatangi siswa, berdiskusi dan melakukan Tanya jawab serta mengklarifikasikan hasiljawabannya.

    Selama siswa melaksanakan pembelajaran, peneliti terus berkeliling mengarahkan siswa, membimbing siswa yang kesulitan sampai siswa selesai melaksanakan percobaan. Peran guru sebagai fasilitator dan motivator kegiatan kelompok. Setelah materi di pelajari dan dibahas secara berkelompok, siswa diberi test untuk menjawab soal pada LKS dengan tujuan untuk mengetahui sejauh mana keberhasilan yang telah dicapainya. Hasil test digunakan nilai perkembangan individu untuk memperoleh skor kelompok. Menjelang akhir pembelajaran, siswa di bimbing guru untuk menyimpulkan materi yang telah

    Dibahas, peneliti menutup materi dengan menyuruh siswa membaca kembali pengetahuan tentang materi yang telah disampaikan, pada pertemuan II.

     

    • Refleksi dan Revisi Tindakan I

    Proses pembelajaran pada siklus I menunjukan kelebihan dan kekurangan, kelebihannya yaitu telah dilaksanakan pembelajaran sesuai dengan tujuan pembelajaran yang ingin di capai. Kekurangannya adalah pada saat pelaksanaan pembelajaran kondisi siwa dalam kelas belum tertib dan aktif, dalam memulai kegiatan belajar mengajar guru kurang memberikan motivasi dan apresiasi, serta kurang tegas terhadap siswa yang tidak mengikuti pelajaran.

    Berdasarkan kekurangan yang ada, maka pelaksanaan pembelajaran pada silus II perlu memperhatikan perbaikan-perbaikan.

     

    1. Deskripsi Data Tindakan II

    Proses pembelajaran pada tindakan II tidak jauh berbeda dari pelaksanaan tindakan sebelumnya yaitu menyusun rencana, membuat LKS, pedoman observasi untuk membantu guru dalam menentukan aktivitas belajar siswa, daftar chek, dll. Semua siswa kelas XII- IPS/ SMA Negeri 12 Bandungyang hadir 43 orang.

     

    1. Pelaksanaan Tindakan II

    Pembelajaraan pada tindakan II diawali dengan menyuruh siswa mengatur tempat duduk supaya berkelompok dengan jumlah kelompok yang sama pada pertemuan sebelumnya. Selanjutnya penelitian memberikan penjelasan tentang kegiatan belajar yang akan dilaksanakan.

    Kemudian peneliti membagikan hasil skor siswa serta memotivasi siswa supaya meningkatkan hasil belajarnya. Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya tentang materi sebelumnya yang tidak dimenegrti dan menjelaskan garis besar materi sebelumnya.

    Peran guru pada tahap ini sebagai fasilitator dan motivator kegiatan tiap kelompok, setelah materi pelajaran dipelajari dan dibahas secara test untuk menjawab soal LKS dengan tujuan untuk mengetahui sejauh mana keberhasilan yang telah dicapainya. Peneliti menutup pelajaran dengan membagikan angket untukmengethui respons siswa terhadap penerapan model pembelajaran ini. Menjelang akhir pembelajaran siswa ditugaskan untuk dan menentukan penyelesaian soal dan mengakhiri proses tindakan penelitian.

     

    1. Refleksi dan Revisi Tindakan II

    Pada terampilan tindakan II proses pembelajaraan meningkatkan disebabkan oleh karena guru memahami kendala yang di hadapinya pada terampilan tindakan sebelumnya. Siswa lebih aktif dan kreatif dalam menyelesaikan tugas-tugas.selain adanya peningkatan terbuktri pada pencapaian nilai rata-rata pre test dan post test. Hasil nilai pre test 85.25 siklus II berarti ada kenaikan 18.25 setelah melihat hasil post test siklus II ternyata semua siswa nilai sudah diatas 50.

     

    1. Hasil Belajar dengan STAD dan Anti Galau

    Guru membentuk kelas menjadi 5 kelompok, untuk mengenal budaya Indonesia dan sejarah batik, maka guru sengaja memberi nama kelompok dengan nama ,otif batik klasik, yaitu Sidomukti, Sidoasih, Mega Mendung, Jlamprang,

    Truntum. Masing-masing kelompok mempelajari mengenai materi Perubahan Sosial. Guru memberikan pertanyaan dan tiap kelompok membuat ilustrasi sosialisasi yang pernah mereka alami, dengan empat tahap sosialisai. Dalam kegiatan ini terdapat unsur Anti Galau, yaitu Aktif, Nasionalis, Terampil, Inspiratif, Gotong – Royong, Atraktif, Adil, Ulet.

     

     

    Tabel 4.1.

    KELOMPOK STAD & ANTI GALAU SOSIOL,OGI KELAS XII-IPS 1

    NAMA MOTIF BATIK KLASIK

    SIDOMUKTI

    Responden 2

    Responden 4

    Responden 7

    Responden 8

    Responden 21

    Responden18

    SIDOASIH

    Responden 22

    Responden 20

    Responden 32

    Responden 6

    Responden 28

    Responden 10

    Responden 29

    TRUNTUM

    Responden 1

    Responden 11

    Responden 25

    Responden 17

    Responden 17

    Responden 9

    Responden  27

    MEGA MENDUNG

    Responden 23

    Responden 30

    Responden 12

    Responden 24

    Responden 3

    Responden 15

    JLAMPRANG

    Responden 14

    Responden 19

    Responden16

    Responden 5

    Responden 13

    Responden 31

    Responden 26

     

     

    1. Analisis Nilai Ulangan Siswa

    Ansisi kuantitatif dilakukan untuk menganalisis data yang diperoleh dari hasil tes siklus I dan tes siklus II Penilaian berdasarkan pada kriteria yang telah ditentukan. Peneliti sengaja menyajikan tabel dengan hasil tiga nilai sekaligus supaya dapat dengan langsung mengamati kemajuan tiap siswa kelas XII- IPS 1. Hasil analisis kuantitatif sebagai berikut.

    Tabel 4.2

    Nilai Ulangan Harian Pra Siklus , Siklus I, dan Siklus II

     

    No

    Nama

    Nilai Ulangan Harian

    Pra Siklus

    Siklus I

    Siklus II

    1

    Adinda Deskiana Bunga Tanjung

    52

    56

    78

    2

    Amalia Agustin

    43

    53

    59

    3

    Andrtenia Like Dwi Canraka

    48

    77

    77

    4

    Annisa Kania Fitriani

    46

    66

    70

    5

    Astria Clodia sari

    55

    73

    78

    6

    Billah Alfath

    52

    57

    77

    7

    Clarisa Yudiani

    56

    76

    78

    8

    David Permana

    73

    74

    76

    9

    Dhea Mazaya Cendani

    50

    75

    79

    10

    Dwyn Prasasty Alamsyah

    41

    63

    74

    11

    Alsa Diah Anggraeni

    61

    68

    68

    12

    Ervin Reza Firdaus

    75

    78

    79

    13

    Eryana Sofyan                                                                                                                                            

    55

    59

    76

    14

    Fitri Andriani

    82

    87

    92

    15

    Ghani Krishna

    54

    74

    73

    16

    Ghinaa Faadiyah gunawan

    62

    67

    79

    17

    Haldzi Faturrohman Ibrahim

    62

    74

    77

    18

    Hena Fauziah

    66

    75

    79

    19

    Indah Fatimah Susilawati

    77

    79

    82

    20

    Ivan Alfiansyah

    58

    76

    82

    21

    Kandagi Putra Rusadi

    47

    77

    79

                No

    Nama

    Nilai Ulangan Harian

    Pra Siklus

    Siklus I

    Siklus II

    22

    Medica Rizkasyah Taufiq

    46

    78

    84

    23

    Nadia Nur Latifah

    78

    78

    86

    24

    Nadya Apriliani

    54

    76

    79

    25

    Naufal Shera Zhafary

    55

    67

    78

    26

    Nur Puspitasari

    68

    77

    82

    27

    Nur Rahmat Ramadhan

    45

    57

    79

    28

    Luqman Muslim

    43

    56

    65

    29

    Oktavian Rozi Palevi

    66

    66

    76

    30

    Pradita Tria Anugrah

    76

    79

    79

    31

    Rahmannialdi Jaya R

    50

    65

    80

    32

    Retno Aryanti

    56

    76

    80

    33

    Riki Gumilar

    60

    78

    86

    34

    Ryan Ajie Kusuma

    76

    80

    88

    35

    Saswika Dwifa Nodirman

    45

    70

    90

    36

    Shafiera Rachmawati Putri

    55

    82

    94

    37

    Simon Justian Lauda JM

    68

    76

    91

    38

    Tiara Kirana

    74

    85

    96

    39

    Vidia Flavia Oktazafira

    57

    77

    90

    40

    Wahyu Yudha Pratama

    65

    81

    90

    41

    Wina Ayu Melinda

    55

    77

    88

    42

    Yogi Denas Putra

    49

    80

    93

    43

    Yuda Muhamad Ridwan

    79

    85

    96

     

    Rata-rata

         58,68

         71,06

         75,12

     

     

     

     

     

     

    Nilai Tertinggi

    82

    87

    96

     

    Nilai Terendah

    41

    53

    59

     

    Presentase Ketuntasan

          21,8%

           62,6%

          90,62%

     

    Presentase Ketidaktuntasan

          78,1%

           37,5%

            9,37%

               

     

    Satu yang membuat peneliti merasa bahwa model ini perlu diterapkan ubtuk kelas – kelas sosiologi berikutnya adalah kehadiran siswa meningkat, dari absen empat kali berturut – turut bahkan seluruh kelas hadir, hanya beberapa anak yang terlambat masuk kelas,jelas.

    Tabel 4.3

    Analisis data Semua Siklus

    No

    Uraian

    Analisis Kualitatif

     

    Pra siklus

    Siklus I

    Siklus II

    1

    Jumlah siswa

    43

    43

    43

    2

    Tidak hadir

    -

    -

    -

    3

    Tuntas

    9 siswa

    30 siswa

    40 siswa

    4

    Tidak tuntas

    34 siswa

    13 siswa

    3 siswa

    5

    Retara

    58,68

    71,06

    75,12

    6

    Persentase ketuntasan

    21,8%

    62,6%

    90,62%

    7

    KKM

    70

    70

    70

    8

    Nilai Tertinggi

    82

    87

    92

    9

    Nilai Terendah

    41

    53

    59

     

    Jika diperhatikan dari tingkat ketuntasan, dapat dilihat bahwa pada pra siklus hanya 9 siswa dari 43 siswa yang mendapat nilai diatas KKM, siklus 1 terdapat 13 yang di bawah KKM, dan siklus II 3 siswa yang tetap dari awal sampai siklus II tidak dapat mencapai KKM. Hal ini terlihat bahwa penggunaan STAD sangat membantu siswa dalam belajar , dengan tutor teman sebaya, siswa menjadi tidak malu bertanya mengenai materi yang belum siswa pahami. Selama menggunakan metode ceramah, bisa saja siswa yang tidak faham, semakin tidak faham karena malu bertanya kepada guru ketika ada beberapa pokok materi yang sebenarnya siswa tidak faham.

    1. Analisis Pengamatan Diskusi

    Secara umum melalui diskusi kelompok dalam pembelajaran Anti Galau dan STAD sangat membantu belajar siswa, tidak ada lagi siswa yang melamun, bermain HP, dan mengobrol sendiri, ataupun mengerjakan tugas mata pelajaran lain. Ketika menggunakan STAD, siswa tidak mempunyai kesempatan untuk melakukan kegiatan lain selain mendiskusikan materi sosiologi.

                Penilaian siskusi didapat dengan pengamatan, baik pada siklus I maupun siklus II. Peneliti melakukan pengamatan dengan sesekali mendatangi kelompok yang kesulitan mengerjakan tugas. Peneliti memancing kreatifitas semua anggota kelompok agar setiap individu turut menyumbangkan pikiran demi poin kelompoknya.

     

    Tabel 4.4

    Hasil Analisis Pengamatan Diskusi

    No

    Jumlah Siswa

    Aktifitas Peserta

    Sangat Baik

    Baik

    Cukup

    1

    43

    Kemampuan bertanya

    43%

    47%

    25%

    2

    43

    Kemampuan mengemukakan pendapat

    46%

    28%

    25%

    3

    43

    Keaktifan diskusi

    59%

    21%

    18%

    4

    43

    Kerjasama

    46%

    34%

    18%

     

                Hasil analisis pengamatan diskusi menunjukan bahwa target penelitian sudah tercapai. Untuk kemampuan bertanya 43%, kemampuan mengemukakan pendapat 46% keaktifan diskusi, dan kerjasama siswa dalam berdiskusi 46% ditargetkan baik (78 s.d 90).

    1. Catatan Harian Guru

    Hasil catatan harian guru menunjukan bahwa sebagian besar siswa aktif hal itu ditunjukan banyak siswa yang bertanya pada materi yang sulit, tingkah laku siswa selama proses pembelajaran serius , senang dan bersemangat tetapi masih ada yang bergurau, respons terhadap tugas kelompok sebagian besar baik terutama ketika mengerjakan tugas, suasana pembelajaran juga kondusif dan siswa sebagian besar percaya diri pada saat pembacaan diskusi. Guru pun memberikan masukan terhadap kesulitan – kesulitan yang dialami siswa. Siswa dihimbau untuk senantiasa mempelajari materi mata pelajaran sosiologi di rumah. Nilai gotong royong untuk memajukan kelompok juga terlihat, hal ini terbukti dengan berkurangnya jumlah anak yang bolos tanpa keterangan. Jiwa ulet ,kreatif, adil sangat dominan dalam diskusi, inilah mental yang diperlukan untuk menghadapi tantangan globalisasi. Catatan Harian Siswa

    Hasil catatan harian siswa menujukan bahwa 81% siswa senang dean tertarik dengan penerapan model Anti Galau dan pembelajaran Cooperative learning model STAD sedangkan 19% siswa merasakan tidak senang dan biasa biasa saja.biasa saja yang memilih tidak senang karena pernah duhukum atau di beri ganjaran karena suatu sebab sehingga semua anggota kelompoknya mendapat hukuman. Sejumlah 61% siswa nengatakan tidak sulit menerapkan model pembelajaran Anti Galau dan Cooperative learning model STAD sedangkan  39% mengatakan guru menerangkan materinya terlalu celalu ceoat kurang memahami, 84% siswa mengatakan media yang digunakan menarik,tidak membosankan dan baik karena siswa mendiskusikan cara – cara sosialisasi yang notabene mereka mengalaminya dalam kehidupan sehari bhari sehingga tidak membuat jenuh, 76% siswa menyatakan gaya mengejar guru menarik dan menyenangkan sedang 24% menyatakan cara menerangkan guru tidak mendetail dan tergesa – gesa, 64% siswa menyatakan agar pembelajaran Anti Galau dan cooperative learning model STAD sering–sering digunakan sedangkan 36% menyatakan agar pembelajaran cooperative learning model (STAD) hanya sebagai alternatif saja. 

     

     

    KESIMPULAN DAN SARAN

    1. Simpulan

    Penelitian dapat memberikan kesimpulan bahwa penggunaan Cooperative Learning apapun modelnya sangat bagus untuk membantu pemahaman dan peningkatan hasil belajar siswa. Penggunaan metode ceramah yang selama ini guru gunakan,  tidak kondusif apalagi untuk materi ilmu sosial yang banyak analisis dan konsep pemahaman, guru mudah lelah dan siswa banyak yang mengantuk.

    • Penerapan model Anti Galau pembelajaran Cooperative learning model STAD di kelas XII sebagai alternatif dalam rangka mengembangkan pembelajaran cooperative (kerjasama kelompok) untuk mata pelajaran Sosiologi
    • Kriteria ketuntasaan Minimal siswa mengalami peningkatan dari prasiklus, siklus I dan siklus II. Hal tersebut ditandai dengan nilai rata rata prasiklus 58,68 meningkat pada siklus I dengan rata tata” 71,06 dan meningkat menjadi 75,12 pada siklus II sehingga memenuhi KKM sebesar 70.
    • Pembelajaran model Anti Galau dan Coperative learning model STAD disarankan oleh siswa menyenangkan dan membuat siswa aktif dalam berdiskusi dan berpendapat.   

     

    1. Saran

    Adapun saran untuk pembaca setelah penilaian ini selesai adalah :

    1. Guru mata pelajaran Sosiologi hendaknya menggunakan model pembelajaran yang menarik siswa, Tidak harus Antik Galau, guru dipersilahkan untuk membuat kreasi untuk menggunakan kata atau kalimat yang tidak asing dilingkungan siswa dan cooperative learning model STAD. Modal pembelajaran Cooperative Learning model STAD terbukti dapat meningkatkan KKM dan keampuan berdiskusi siswa. Selain itu, model pembelajaran tersebut dapat dirasakan menyenangkan bener”
    2. Model Anti Galau dan pembelajaran Cooperatif Learning Model STAD sebagai model pembelajaran Sosiologi karema memiliki keunggulan merangsang daya pikir,kemampuan beragumen dan keaktivan siswa.
    3. Para guru yang mengajar sosiologi kiranya dapat melakukan penelitian lanjutan mengenai pembelajaran kooperatif. Para guru dapat menerapkan berbagai startegi, model, metode, teknik, dan media berdasarkan pendekatan tertentu yang tepat untuk meningkatkan keaktifan siswa. Hasil penelitian tersebut diharapkan dapat membantu guru untuk memecahkan masalah yang sering muncul dalam proses pembelajaran Sosiologi di kelas sehingga berdampak positif bagi perkembangan pendidikan yang lebih berkualitas.

     

    DAFTAR PUSTAKA

     

    Ahmad, Abu, dan Supriyono,Widodo, 1991, Psikolog Belajar, Jakarta: Rineka Cipta.

    De Porter, Bobbi dan Hernacki,Mike dalam Abdurrahman,Alwiyah (penerjemah), 2002. Quantum Learning, Membiasakan Belajar Nyaman dan Menyenangkan, Bandung: Kaifa,

    Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI; 1990. Kamus besar Bahasa Indonesia, Jakarta:Balai Pustaka.

    Gordon, Thomas, dalam Mudjito, (penyadur); 1984.Guru Yang Efektif, Cara Mengatasi Kesulitan Dalam Kelas, Jakarta: CV Rajawali,

    Hamalik, Oemar, 1991. Perencanaan dan Manajemen Pendidikan, Bandung: CV Mandar Maju,.

    Mulyasa, E., 2003.Kurikulum Berbasis Kompetensi, Konsep, Karakteristik dan Implementasi, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya,

    ------------------,2003.Manajemen Berbasis Sekolah, Konsep, strategi, dan Implementasi, Bandung, PT. remaja Rosdakarya,

    Madya, Suwarsih, prof.,Ph.D., Teori dan Praktik, Penelitian Tindakan (Action Research), Bandung, Penerbit Alfabeta, 2006.

    Pemerintah RI; UU RI No. 20 Tahun 2003. Tentang Sistem  Pendidikan Nasional, Jakarta,Penerbit Cemerlang, 2003.

    -------------------; UU RI No. 14 Tahun 2005. Tentang Guru dan Dosen, Bandung,Penerbit Citra Umbara, 2006.

    Surakhmad, Winarno, 1980. Metodologi Pengajaran Nasional,Bandung: Jemmarss,

    Sunarto dan Hartono Ny. B. Agung, 1999. Perkembangan Peserta Didik, Jakarta: Penerbit Rineka Cipta

    Sudjana, Nana, 1989. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar, Bandung:Penerbit PT Remaja

    © 2017 Sekolah Menengah Atas Negeri 12 Bandung