PENINGKATAN HASIL BELAJAR GEOGRAFI MATERI DASAR – DASAR PEMETAAN DENGAN MODEL BELAJAR KOOPERTIF TIPE JIGSAW PADAPESERTA DIDIK KELAS XII IPS 1 SMA NEGERI 12 BANDUNG Oleh Fransisca Srihartijati Wuriakanti,S.Pd

    PENINGKATAN HASIL BELAJAR GEOGRAFI MATERI DASAR – DASAR PEMETAAN DENGAN MODEL BELAJAR KOOPERTIF TIPE JIGSAW PADA PESERTA DIDIK KELAS  XII IPS 1 SMA NEGERI 12 BANDUNG

    Fransisca Srihartijati Wuriakanti,S.Pd

    NIP.196509091989032004

     

    ABSTRAK

     

    Model kooperatif tipe Jigsaw adalah salah satu model pembelajaran yang dapat diterapkan oleh guru dalam pembelajaran geografi untuk memberikan pengalaman belajar yang bermakna, bagi siswa karena dapat membangkitkan aktifitas kegiatan belajar mengajar. Aktifitas belajar siswa yang positif merupakan proses bagi siswa dalam mempelajari dan memahami materi. Semakin sering siswa melibatkan secara aktif dalam KBM semakin besar kesempatan bagi siswa untuk mengembangkan kemampuan yang mereka miliki baik dalam segi akademis untuk mencapai target KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal) dan diharapkan juga dalam segi pengembangan sikap dalam diri siswa. Jumlah peserta didik 38  orang terdiri dari 14 orang laki-laki 24 orang perempuan Kebenaran hipotesis tindakan dan untuk menjawab pertanyaan penelitian perlu didukung oleh data-data dan informasi akurat yang diperoleh melalui penelitian. Data tersebut diperoleh melalui ulangan harian yang dilaksanakan akhir siklus, tugas individu yang berupa pekerjaan rumah (PR) tugas kelompok, lembar observasi dan angket siswa. Dari penelitian tindakan kelas yang telah dilaksanakan pada peserta didik kelas XII IPS 1 SMA Negeri 12 Bandung , maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut : (1) Dengan menggunakan metode kooperatif tipe jigsaw  dalam pembelajaran akan dapat meningkatkan penguasaan materi Dasar-dasar Peta dari peserta didik yang bersangkutan. (2) Penerapan  Model pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw pada materi Dasar – Dasar Peta dapat meningkatkan aktifitas peserta (3) Respon peserta didik  terhadap Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw . Peningkatan tersebut telah melebihi indikator ketercapaian yaitu 35 orang dari 38 peserta didik dengan prosentase ebesar 84,38 %. Hal serupa juga terjadi pada hasil belajar siswa yang mengalami  kenaikan prosentase  sebesar 89,96% pada siklus II. Dari prosentase  hasil belajar peserta didk siklus II tersebut menunjukkan peningkatan dan telah mencapai indicator ketercapaian yaitu 75%.  Melalui model kooperatif tipe Jigsaw diharapkan memicu siswa kelas XII IPS 1 lebih termotivasi dalam belajar Geografi


     

     


    PENDAHULUAN

    Salah satu pendukung terwujudnya pembelajaran yang demokratis adalah terdapatnya model, metode, pendekatan dalam pembelajaran yang bervariasi serta meninggalkan pola kurikulum, strategi pembelajaran dan evaluasi belajar yang serba seragam.

    Faktor pendukung tercapainya Tujuan kurikulum mencakup empat kompetensi, yaitu (1) kompetensi sikap spiritual, (2) sikap sosial, (3) pengetahuan, dan (4) keterampilan. Kompetensi tersebut dicapai melalui proses pembelajaran intrakurikuler, kokurikuler, dan/atau ekstrakurikuler

    Mata pelajaran Geografi selalu dianggap mata pelajaran yang sulit dan kurang menyenangkan khususnya bagi peserta didik SMA jurusan IPS, di satu sisi Geografi adalah mata pelajaran peminatan bagi jurusan IPS yang jelas- jelas nilainya tidak boleh di bawah KKM ( 75), penulis melihat hasil nilai evaluasi geografi kelas XII IPS 1 kurang memuaskan, entah tidak paham atau malas atau tidak menyukai pelajaran geografi ataukah pengaruh gurunya. Hal tersebut membuat penulis kecewa dengan usaha dari peserta didik kelas XII IPS 1 yang menganggaP geografi itu pelajaran yang  sulit untuk dipahami . Di bawah ini adalah hasil ulangan kelas XII IPS 1 sebelum mendapat tindakkan

    Tabel 1

     

    Gambar 1

    Berdasarkan hasil pengamatan penyusun, di kelas XII IPS 1 SMA Negeri 12 Bandung  terdapat materi yang sudah sering ditemui tapi karena kurangnya motivasi, tanggapan dan antusias para siswa sehingga hasil belajar belum maksimal yaitu pada materi Pemanfaatan Peta   sehingga mendorong penyusun untuk meneliti Kenyataan demikian menuntut adanya perbaikan dan sistem pembelajaran yang dapat meningkatkan kualitas hasil belajar, dan juga meningkatkan minat peserta didik.

    Untuk meningkatkan kualitas hasil belajar, maka selayaknya diperlukan suatu model pembelajaran yang dapat meningkatkan kualitas pembelajaran dan mengajak suswa untuk lebih aktif dan kreatif dalam belajar. Cooperative Learning merupakan model pembelajaran yang menekankan pada ketercapaian hasil belajar dengan mengutamakan bekerja sama dalam kelompok. Cooperative Learning memiliki berbagai tipe pembelajaran. Salah satu tipe dari model pembelajaran Cooperative Learning adalah tipe Jigsaw.

    Proses pembelajaran dengan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw menurut TIM MKPBM (2001:219) mengemukakan bahwa Jigsaw adalah setiap anggota kelompok diberi tugas mempelajari topik tertentu yang berbeda. Para siswa bertemu dengan anggota-anggota dari kelompok lain yang mempelajari topik yang sama untuk saling bertukar pendapat dan informasi. Setelah itu mereka kembali ke kelompoknya semula untuk menyampaikan apa yang didapatnya kepada teman-temannya di kelompoknya, para siswa kemudian diberi tes secara individu oleh guru. Skor hasil tes tersebut disamping untuk menentukan skor individu juga digunakan untuk menentukan skor kelompoknya

    Karli dan Margaretha (2002:70) mengemukakan tugas seorang guru bukan hanya sekedar mengajar (teaching) tetapi lebih pada membelajarkan (learning) dalam mendidik. Pembelajaran yang bisa didapat siswa selama bangku sekolah seharusnya dapat digunakan untuk bekal hidup dan untuk belajar hidup. Oleh karena itu pembelajaran tidak hanya ditekankan pada keilmuannya semata. Arah  pembelajaran seharusnya terfokus pada belajar (learn) seperti : learning how to learn, learning how to be live together dan learning how to be a good sistem. Semua pembelajaran tersebut di atas dapat dilaksanakan terhadap semua jenis mata pelajaran dengan menggunakan model

    Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah :

    1. Apakah penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw dapat meningkatkan hasil belajar Geografi pada peserta didik kelas XII IPS 1 SMA Negeri 12 Bandung
    2. Apakah terdapat peningkatan aktifitas peserta didik kelas XII IPS 1 SMA Negeri 12 Bandung selama pembelajaran dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw ?
    3. Apakah terdapat peningkatan respon peserta didik kelas XII IPS 1 SMA Negeri 12 Bandung  terhadap pembelajaran dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw ?

     

    METODE PENELITIAN

    Karli, Hilda dan Margaretha S. Y. (2002:70) mengemukakan : ”Model pembelajaran kooperatif (cooperative learning) adalah suatu strategi belajar mengajar yang menekankan pada sikap atau prilaku bersama dalam bekerja atau membantu diantara dalam struktur atas dua orang atau lebih”. Dengan kata lain, pembelajaran dengan sistem kerja kelompok adalah kelompok kerja yang kooperatif lebih dari kompetitif, sehingga terjadi interaksi dan saling mempengaruhi antara siswa satu dengan yang lainnya. Pada kegiatan ini sekelompok siswa belajar dengan porsi utama adalah mendiskusikan tugas-tugas yang diberikan gurunya.

    Aktifitas dalam model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw adalah sebagai berikut :

    1. Guru memberikan pengenalan terhadap topik yang akan dibahas dengan maksud untuk mengaktifkan siswa agar lebih siap menghadapi bahan pelajaran yang baru.
    2. Siswa dibagi kelompok yang terdiri dari empat anggota dengan kemampuan akademik yang bervariasi dan jenis kelamin yang berbeda.
    3. Setiap anggota kelompok diberi tugas mempelajari topik tertentu yang berbeda.
    4. Dari setiap kelompok diambil satu siswa yang mempelajari topik yang sama untuk saling bertukar pendapat dan informasi untuk dijadikan kelompok ahli. Sebagai ilustrasi dapat digambarkan sebagai berikut :

    Gambar 2

     

     

    Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas menurut Arikunto, Suharsimi. at.al. (2006:3) mengemukakan “Penelitian tindakan kelas merupakan suatu pencermatan terhadap kegiatan belajar berupa sebuah tindakan, yang sengaja dimunculkan dan terjadi dalam sebuah kelas secara bersama”. Jadi PTK bisa dikatakan suatu tindakan yang disengaja untuk mendapatkan kegiatan belajar mengajar dengan hasil yang maksimal yang berfokus pada kegiatan pembelajaran.

    Sejalan dengan fokus penelitian tindakan kelas Wardani, I.G.A.K., et.al. (2006:7,6) berpendapat “Fokus PTK adalah kegiatan pembelajaran”, diperkuat oleh Arikunto, Suharsimi (2006:7) mengemukakan “Penelitian tindakan bukan menyangkut materi atau topik pokok bahasan itu sendiri, tetapi menyangkut penyajian topik pokok bahasan yang bersangkutan, yaitu strategi, pendekatan, metode atau cara untuk memperoleh hasil melalui sebuah kegiatan uji coba atau eksperimen”.

    Penelitian tindakan kelas juga harus adanya hubungan atau kerjasama antara peneliti dengan guru baik dalam pembelajaran maupun dalam menghadapi permasalahan yang nyata di kelas. Dalam hal ini Arikunto, Suharsimi, at.al. (2006:63) mengemukakan “Kerjasama (kolaborasi) antar guru dengan peneliti menjadi hal yang sangat penting. Melalui kerjasama, mereka secara bersama menggali dan mengkaji permasalahan yang dihadapi guru dan/atau siswa di sekolah.

    Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa penelitian tindakan kelas merupakan penelitian yang bersifat reflektif dengan melakukan tindakan yang tepat dan dilaksanakan secara kolaboratif (kerjasama) untuk memperbaiki atau meningkatkan hasil belajar matematika siswa dengan penyajian pembelajaran melalui model pembelajaran yang berbeda.

     

    HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHSAN

    Berdasarkan hasil pantauan penulis mengenai kelas XII IPS 1 , kelasnya sangat ramai, tidak bisa konsentrasi, tidak bisa diam, senang ngobrol, terlalu banyak kegiatan, tidak betahan di kelas sering minta ijin ke luar, membuat guru kadang-kadang agak malas untuk mengajar di kelas ini apalagi bila dilihat dari hasil evaluasiny sangat rendah dan kurang memuaskan. Sebagian besar nilainya di bawah KKM, nilai tertinggi nilainya 77 yng terkecil adalah 50 dan rata – rata nilai yang diperoleh adalah 65,57.

    Rata-rata yang diambil dari tugas kelompok, tugas individu dan ulangan harian siklus I merupakan hasil belajar siswa. Hasil belajar siklus I diperoleh dari nilai  :

    HB =( 2 x UH + TI + TK) / 4

    HB = (2 x 73,84 + 80,17 + 70,59) / 4

    HB =  74,61

    Dengan demikian berdasarkan paerhitungan Hasil Belajar maka nilainya masih di bawah KKM yaitu 74,61 sedangkan KKM di SMAN 12 Bandung adalah 75

     

    Kelemahan pada Siklus I

    1. Interaksi antar anggota kelompok asal belum terjalin dengan baik. Pada siklus I beberapa peserta didik masih cenderung pasif dan peserta didik masih cenderung malu untuk menyampaikan pendapat dan mempresentasikan hasil diskusi mereka dengan kelompok lain. Jalannya diskusi masih di dominasi peserta didik yang terbiasa aktif dalam pembelajaran maupun diskusi kelompok.
    2. Peserta didik masih terbawa dengan model pembelajaran konvensional yang biasa digunakan oleh guru pada pembelajaran sebelumnya. Hal ini dapat terlihat dari beberapa peserta didik kesulitan mengikuti jalannya diskusi dan hanya mengandalkan temannya yang menonjol dalam kelompoknya dalam mempresentasikan hasil diskusi materi.
    3. Masih kurangnya kesadaran peserta didik akan tanggungjawabnya dalam mempelajari materi baik secara individu maupun kelompok.

     

    Hasil Belajar Siswa Siklus II

    Rata-rata yang diambil dari tugas kelompok, tugas individu dan ulangan harian siklus II merupakan hasil belajar siswa. Hasil belajar siklus II diperoleh adalah sebagai berikut :

    HB =( 2 x UH + TI + TK) / 4

    HB = (2 x 86,21 + 94,27 + 90,75) / 4

    HB =  89,36

    Hasil belajar yang diperoleh oleh peserta didik kelas XII IPS 1 pada siklus 2 sebesar 89,36 dengan demikian hasil belajar siklus II dapat melebihi KKM SMA Negeri 12 Bandung yaitu 75

                   Aktivitas Siswa Selama Pembelajaran dengan Menerapkan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw Mempelajari topik tertentu yang berbeda. Siswa bertemu dengan anggota-anggota dari kelompok lain yang mempelajari topik yang sama untuk saling bertukar pendapat dan informasi (kelompok ahli). Setelah selesai bertukar pendapat mereka kembali ke kelompok semula untuk menjelaskan hasil yang didapat kepada teman-teman di kelompoknya (kelompok asal) untuk memperoleh gambaran mengenai pembelajaran dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw, data diperoleh berdasarkan hasil observasi yang dilakukan untuk mengamati aktivitas siswa dalam upaya meningkatkan hasil belajar melalui model pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw.

     

    Aktifitas Peserta Didik Pada Siklus I dan Siklus II

    Setiap aktivitas peserta didik pada tiap siklus diberi skor rata-rata pengamatan dari observer. Rata-rata skor pengamatan aktivitas peserta didik pada saat pembelajaran dapat dilihat pada tabel di bawah ini, berdasarkan tabel di bawah ini diperoleh bahwa aktivitas peserta didik mengalami perubahan yang positif dari setiap siklusnya, rata-rata skor pengamatan sktivitas peserta didik untuk tiap siklus dapat dilihat pada tabel berikut :

     

    Tabel 2

    Aktivitas Peserta Didik Pada Pembelajaran

    Gambar 3

     

    Hasil Belajar

    Untuk menentukan tercapainya tujuan pendidikan dan pembelajaran perlu dilakukan usaha atau tindakan penilaian yang disebut juga dengan evaluasi. Untuk mengetahui hasil belajar pada penelitian ini dengan menerapkan model pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw, apakah terdapat peningkatan atau tidak dilihat dari kemampuan peserta didik dalam mengerjakan tugas kelompok, tugas individu, dan ulangan harian setiap siklus. Apabila terdapat peningkatan dari siklus I sampai siklus II maka dikatakan hasil belajar siswa meningkat.

    Hasil tugas kelompok, tugas individu dan ulangan harian dianalisis dengan menggunakan analisis ketercapaian hasil belajar. Hasil belajar ini berdasarkan KKM dan kriteria belajar siswa yang ada SMA Negeri 12 Bandung Setelah dianalisis, maka diperoleh gambaran hasil tugas kelompok, hasil tugas individu, hasil ulangan harian dan hasil belajar siswa sebagai berikut :

     

     

     

    Tabel 3

    Rata-rata Tugas Kelompok

     

    Gambar 4

     

     

    Berdasarkan tabel dan diagram terlihat bahwa rata-rata nilai tugas kelompok siswa mengalami peningkatan dari siklus I ke siklus II sebesar 20,16. Dengan demikian peserta didik telah mampu bekerja sama berbagi pengetahuan melalui metode Jigsaw

     

    Hasil Tugas Individu

    Tabel 5

    Rata-rata Tugas Individu

    Gambar 6

     

    Berdasarkan tabel dan diagram terlihat bahwa rata-rata nilai tugas individu peserta didik mengalami kenaikan dari siklus I ke siklus II sebesar 14,1

     

    Hasil Rata – Rata Ulangan Harian

    Tabel 6

    Rata-rata Ulangan Harian

     

    No

    Tindakan

    Rata-rata

    1

    2

     

    Siklus I

    Siklus  II

    73,84

    86,21

     

    Gambar 7

    Berdasarkan tabel dan diagram di atas terlihat bahwa  rata-rata nilai ulangan harian peserta didik mengalami peningkatan dari siklus I ke siklus II sebesar 12,97.

    Tabel 7

    Rata-rata Hasil Belajar

     

    No

    Tindakan

    Rata-rata

    1

    2

     

    Siklus I

    Siklus II

     

    74,61

    89,36

     

     

     

     

     

     

    Gambar 8

     

     

    Berdasarkan tabel dan diagram terlihat bahwa hasil belajar siswa mengalami peningkatan dari siklus I ke siklus II sebesar 14,75

     

    Berdasarkan data yang diperoleh setelah pelaksanaan tindakan pada siklus I dan siklus II membuktikan bahwa penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar peserta didik kelas XII IPS 1 SMA Negeri 12 Bandung Pernyataan ini dapat di buktikan dengan adanya peningkatan motivasi dan hasil belajar peserta didik pada keseluruhan kegiatan pembelajaran. Hasil penelitian motivasi membuktikan baik dari hasil observasi mengalami peningkatan pada tiap indikator motivasi belajar yang telah ditetapkan yaitu keseluruhan peserta didik mengalami peningkatan motivasi dari siklus I dan siklus II. Peningkatan tersebut telah melebihi indikator ketercapaian yaitu 35 orang dari 38 peserta didik dengan prosentase ebesar 84,38 Hal serupa juga terjadi pada hasil belajar siswa yang mengalami  kenaikan prosentase  sebesar 89,96 pada siklus II. Dari prosentase  hasil belajar peserta didk siklus II tersebut menunjukkan peningkatan dan telah mencapai indicator ketercapaian yaitu 75%. Keseluruhan hasil penelitian di atas menunjukkan bahwa motivasi dan hasil belajar peserta didik pada mata pelajaran Geografi  mengalami peningkatan dan telah mencapai rata-rata indikator capaian minimal sebesar 75. Peningkatan tersebut sesuai dengan teori yang dijelaskan oleh Mulyasa (2006:101) yang menyatakan bahwa suatu pembelajaran dapat dinyatakan berhasil dan berkualitas apabila seluruhnya atau setidak-tidaknya sebagian besar (75) peserta didik terlibat secara aktif, baik fisik, mental maupun sosial dalam proses pembelajaran. Dalam penetapan besarnya indikator ketercapaian dalam penelitian dilakukan dengan mempertimbangkan hasil observasi   pra siklus, hasil tes kognitif yang diberikan pada subjek penelitian sebelum tindakan. Berpijak dari uraian pembahasan diatas maka dapat ditarik kesimpulan bahwa dengan penerapan pembelajaran kooperatif Tipe Jigsaw dapat  meningkatkan motivasi maupun hasil belajar Geografi siswa kelas XII IPS 1 SMA Negeri 12 Bandung.

     

     

    KESIMPULAN

    Berdasarkan hasil penelitian, pengamatan dan analisis data yang telah dilaksanakan dalam penelitian ini, maka dapat disimpulkan :

    Penerapan model pembelajaran koooperatif tipe Jigsaw pada materi pemanfaatan peta. Hal ini dapat dilihat dari hasil belajar geografi siswa yang diperoleh dari nilai tugas kelompok, nilai tugas individu dan nilai ulangan harian.

    1. Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw pada materi pokok peta dapat meningkatkan aktivitas peserta didik, hal ini dapat dilihat dari hasil observasi aktivitas. Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw mampu menciptakan kegiatan belajar mengajar yang membangkitkan aktivitas peserta didik.
    2. Respon peserta didik terhadap penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw pada pemanfaatan peta menunjukkan ke arah positif.

    Saran

    Berdasarkan kesimpulan hasil penelitian, maka penulis menyarankan :

    1. Model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw dapat diterapkan oleh guru geografi untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar peserta didik, karena penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw memberikan beberapa keuntungan diantaranya : meningkatkan kemampuan siswa dalam berdiskusi, mengemukakan pendapat, menghargai pendapat orang lain, bekerja dalam kelompok ahli, menjelaskan kepada kelompok asal, bekerja secara individu soal-soal yang dipelajari siswa secara benar lebih banyak, siswa terbiasa dengan jawaban dari soal-soal latihan yang variatif.
    2. Keberhasilan belajar geografi , peserta didik tidak hanya tertumpu pada banyaknya waktu guru dalam menjelaskan seluruh materi secara detail, tetapi tergantung pada keseriusan dan ketekunan peserta didik dalam mempelajari geografi secara individu maupun kelompok serta aktifitas mereka dalam melaksanakan tugas secara individu maupun kelompok
    3. Peranan guru sangat penting dalam memotivasi peserta didik agar mampu belajar dan bekerja sama dalam kelompok.
    4. Guru diharapkan dapat mengembangkan model dan metode pembelajaran yang dapat mendorong motivasi belajar Sosiologi siswa serta dapat mempermudah siswa dalam memahami materi pelajaran.
    5. Guru hendaknya perlu menambah wawasannya tentang metode-metode pembelajaran yang inovatif agar proses pembelajaran lebih menarik dan siswa tidak merasa bosan dalam mengikuti kegiatan belaj mengajar di kelas.
    6. Guru hendaknya dapat memanfaatkan sarana dan prasarana yang sudah disediakan oleh sekolah sebagai alat bantu dalam pengembangan media pembelajaran.
    7. Dengan adanya penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw sebaiknya dimanfaatkan dengan baik oleh siswa untuk bekerja sama dalam satu kelompok untuk memecahkan masalah dan saling mengajari satu sama lain.
    8. Siswa hendaknya lebih meningkatkan kemampuan untuk berdiskusi maupun bersosialisasi dengan siswa lain dan saling membantu terhadap siswa lain.
    9. Sebaiknya ada sosialisasi model-model pembelajaran yang lebih efektif kepada guru-guru agar mereka dapat menerapkannya di dalam kelas sehingga pembelajaran menjadi tidak monoton.
    10. Pihak sekolah hendaknya semakin meningkatkan fasilitas-fasilitas sehingga dapat mendukung proses pembelajaran.

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

    DAFTAR PUSTAKA

    Hudoyo, Herman. 1990. Strategi Belajar Mengajar. IKIP Malang.

    Kunandar.2008. Langkah Mudah Penelitian Tindakan Kelas Sebagai Pengembangan Profesi Guru.Jakarta : Raja Grafindo Persada.

    Nasution, S. 1992. Berbagai Pendekatan dalam Proses Belajar Mengajar.Bandung : Jemars.

    Negoro, ST. 1998. Ensiklopedia Pengetahuan Umum. Jakarta : Ghalia Indonesia.

    Purwanto, M. Ngalim. 2001. Prinsip-Prinsip dan Teknik Evaluasi. Bandung : Remaja Rosdakarya.

    Sagala, S. 2003. Konsep dan Makna Pembelajaran.Bandung : Alfabeta.

    Slameto. 1987. Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta : Bina Marga.

    Suherman, Erman. Dkk. 2003.Strategi Pembelajaran Kontemporer. Jakarta : UPI. Syah, M. 2003. Psikologi Belajar. Jakarta : Raja Grafindo Persada.

     

     

     

     

     

     

     


     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

    © 2017 Sekolah Menengah Atas Negeri 12 Bandung