PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF DALAM MENINGKATKAN HASIL BELAJAR GEOGRAFI MATERI DINAMIKA KEPENDUDUKAN SISWA KELAS XI LINTAS MINAT GEOGRAFI DI SMA NEGERI 12 Oleh Fransisca Srihartijati Wuriakanti,S.Pd

    PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF

    DALAM MENINGKATKAN HASIL BELAJAR GEOGRAFI MATERI DINAMIKA KEPENDUDUKAN

     SISWA  KELAS XI LINTAS MINAT GEOGRAFI  DI SMA NEGERI 12

     

    Fransisca Srihartijati Wuriakanti,S.Pd

    NIP. 196509091989032004

     

    ABSTRAK

     

     Berdasarkan hasil observasi di SMA Negeri 12 Bandung kualitas hasil belajar matematika kelas XI masih di bawah KKM, penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar matematika, melalui model pembelajaran kooperatif .

    Metode penelitian ini, menggunakan metode penelitian tindakan kelas. Prosedur penelitian berbentuk siklus. Setiap siklus terdiri dari empat tahap meliputi: perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi. Teknik pengumpalan data melalui observasi dan tes. Pengumpulan data ini menggunakan instrumen berupa lembar pengamatan observasi siswa dan kinerja guru dalam proses pembelajaran, sedangkan untuk mengetahui kualitas hasil belajar siswa kelas XI Lintas Minat SMA Negeri 12 Bandunh  digunakan lembar evaluasi/tes.

    Hasil penelitian menunjukan bahwa penggunaan model pembelajaran kooperatif  dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran geografi .  Indikator peningkatan motivasi belajar ini juga terlihat dari adanya peningkatan nilai rata-rata tiap kelompok dari siklus tindakan kesatu dan kedua pembelajaran kooperatif pada siklus kesatu, hasil pre tes rata-rata nilai kelas adalah 41, maka setelah pembelajaran kooperatif hasil pos tes meningkat manjadi 60,5. yang berarti mendekati nilai kriteria ketuntasan minimal.Dari nilai rata-rata  61.63 pada siklus I  menjadi  80.06 pada siklus II

    Kata Kunci : Hasil Belajar, Kooperatif, Motivasi

     


    PENDAHULUAN

    Mata pelajaran Geografi merupakan mata pelajaran yang wajib di ampu di kelas IPS , bersama- sama dengan mata pelajaran Sosiologi, Ekonomi dan Sejarah kedudukan mata pelajaran tersebut dikatakan sebagai mata pelajaran peminatan. Di luar program IPS banyak juga peserta didik yang berminat terhadap pelajaran Geografi seperti peserta didik yang berlatar belakang program MIPA. Kerena menurut mereka mata pelajaran Geografi ini snagt berhubungan dengan jurusan yang akan mereka pilih di perguruan Tinggi.

    Kurikulum 2013 mewadahi harapan dari peserta didik yang berlatar belakang program MIPA untuk mendapat pelajaran Geografi, yaitu dengan adanya program Lintas Minat. Pesrta didik diperbolehkan memilih salah satu mata pelajaran dari program IPS untuk diampu. Peminat mata pelajaran Geografi dari program MIPA ternyata cukup banyak dengan komposisi yang sangat mencolok terutama di kelas XI. Jumlah peserta didik seluruhnya ada 38 dengan perbandingan jumlah laki-laki cukup banyak yaitu  6 orang perempuan dan 32 orang laki-laki. Dengan komposisi yang mencolok tersebut dapat dikatakan peminat mata pelajaran Geografi  lebih banyak laki-laki dibandingkan dengan perempuan. Kondisi tersebut jelas sangat berpengaruh pada kegiatan belajar mengajar, karena umumnya peserta didik laki-laki lebih kurang kondusif dibandingkan dengan peserta didik perempuan,

    Sebagai salah satu program pendidikan yang membina dan menyiapkan peserta didik sebagai warga negara yang baik dan bertanggungjawab, pembelajaran geografi diharapkan mampu mengantisipasi berbagai perubahan yang terjadi di masyarakat sehingga peserta didik  mempunyai  bekal  pengetahuan dan keterampilan dalam  melakoni  kehidupan di masyarakat. Oleh sebab itu mata pelajaran geografi di satuan pendidikan khususnya di SMA Negeri 12 Bandung seharusnya membuahkan hasil belajar yang berupa perubahan sikap, pengetahuan, dan keterampilan yang sejalan dengan tujuan kelembagaan sekolah lanjutan atas.

    Kelas Lintas Minat Geografi akan berubah kondisinya bila pembelajaran geografi yang disampaikan oleh pendidik masih bersifat guru sentris , mungkin yang tadinya berminat akan menjadi tidak berminat pada pmata peljaran Geografi karena dianggap monoton dan membosankan.

    Kecenderungan pembelajaran demikian, mengakibatkan lemahnya pengembangan potensi diri peserta didik dalam pembelajaran sehingga hasil belajar yang dicapai tidak optimal. Kesan yang tinggi bahwa verbalisme dalam pelaksanaan kegiatan belajar mengajar di kelas masih terlalu kuat. Pertanyaan-pertanyaan yang digunakan oleh guru dalam interaksi kelas berupa pertanyaan-pertanyaan dalam kategori kognisi rendah (Low order thingking skill).

    Berdasarkan pemikiran di atas, maka penulis bermaksud untuk melakukan suatu penelitian dalam bentuk penelitian tindakan kelas dengan judul “Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Geografi Melalui Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif  Dalam meningkatkan Hasil Belajar Geografi  Materi Dinamika Kependudukan Siswa kelas  XI Lintas Minat Geografi di SMA Negeri 12 Bandung. Berdasarkan latar belakang tersebut seorang guru dituntut untuk menggunakan strategi pembelajaran yang bervariasi, sehingga dapat melayani perbedaan individual siswa, mengaktifkan siswa dengan guru, mendorong berkembangnya kemampuan baru, yang ada akhirnya siswa memiliki motivasi belajar yang tinggi. Hal ini seiring dengan pergeseran paradigma pendidikan yang berubah dari pola  teaching (mengajar) ke learning (belajar).

    Oleh karena itu seorang guru sebagai pendidik perlu memiliki berbagai metodologi mengajar, karena keberhasilan Proses Belajar Mengajar (PBM) bergantung  pada cara/mengajar gurunya. Jika cara mengajar gurunya enak  maka siswa akan tekun, rajin, antusias menerima pelajaran yang diberikan sehingga diharapkan akan terjadi perubahan dan tingkah laku pada siswa baik tutur katanya, sopan santunnya, motorik maupun gaya hidupnya

    Rendahnya motivasi dan partisipasi belajar dirasakan di SMA negeri 12 Bandung. Hal ini terlihat ketika guru menjelaskan materi pelajaran, tampak siswa kurang tertarik mengikuti pembelajaran yang diberikan oleh guru. Hal ini terlihat dari indikasi adanya beberapa orang siswa yang tidak serius sewaktu mendengarkan penjelasan guru seperti membuat tulisan-tulisan yang tidak          berkaitan dengan materi pelajaran, berbisik-bisik dengan temannya atau bahkan kelihatan mengantuk. Perilaku tersebut tentunya berakibat pada rendahnya pemahaman siswa terhadap materi pelajaran Geografi, sehingga prestasinyapun menjadi rendah.

    Kondisi tersebut salah satunya mungkin disebabkan oleh metode  mengajar yang digunakan oleh guru, atau kurangnya media pembelajaran dan kurangnya guru dalam mengembangkan bahan pembelajaran. Guru hanya menggunakan metode ceramah, dengan diselingi tanya jawab yang minim, sehingga hal ini membuat siswa cepat bosan dan kurang terlibat dalam kegiatan pembelajaran. Kondisi demikian akan teratasi manakala guru berupaya untuk menentukan solusinya, yaitu mengganti model pembelajaran yang selama ini sering di gunakan.

    Salah satu model pembelajaran yang dipandang mampu mengatasi permasalahan belajar siswa di atas adalah Model Pembelajaran Kelompok Dengan Strategi Pembelajaran Kooperatif ( Cooperative Learning ). Model pembelajaran ini berangkat dari dasar pemikiran getting better together” yang menekankan pada pemberian kesempatan belajar yang lebih luas dan suasana yang kondusif. Strategi pembelajaran kooperatif  merupakan strategi pembelajaran kelompok yang akhir-akhir inipe dianjurkan oleh para ahli. Menurut Slavin dalam Sanjaya (2006) mengemukakan dua alasan tentang pembelajaran kooperatif, pertama beberapa hasil penelitian membuktikan bahwa penggunaan pembelajaran kooperatif dapat meningkatkan prestasi siswa sekaligus dapat meningkatkan hubungan sosial, menumbuhkan sikap menerima kekurangan diri dan orang lain serta dapat meningkatkan harga diri. Kedua, pembelajaran kooperatif dapat memecahkan masalah dan mengintegrasikan pengetahuan dengan keterampilan. Dengan demikian pembelajaran kooperatif  memiliki dampak yang positif terhadap siswa yang rendah hasil belajarnya, karena dapat meningkatkan motivasi, hasil belajar dan penyimpanan materi pelajaran yang lebih lama.

    Berdsarkan latar belakang masalah yang dikemukakan di atas, maka yang menjadi inti permasalahan adalah bagaimana peningkatan motivasi dan partisipasi belajar siswa serta kreativitas dan hasil belajar siswa dalam belajar Geografi di kelas XI Lintas Minat  SMA Negeri 12 Bandung? Adapun rumusan masalahnya dapat dirinci sebagai berikut:

    1. Bagaimana potret pembelajaran geografi yang terjadi di XI LINTAS MINAT SMA Negeri 12 Bandung?
    2. Bagaimana desain model pembelajaran kelompok dengan strategi pembelajaran kooperatif di kelas XI LINTAS MINAT SMA Negeri 12 Bandung?
    3. Bagaimana langkah-langkah pelaksanaan model pembelajaran kooperatif pelajaran Geografi di kelas XI LINTAS MINAT SMA Negeri 12 Bandung  ?
    4. Bagaimana strategi guru untuk membuat semua siswa aktif dalam kelompok dalam penerapan model pembelajaran kooperatif pelajaran Geografi di kelas XI Lintas Minat SMA Negeri 12 Bandung ?
    5. Bagaimana hasil pembelajaran geografi dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif pelajaran Geografi di kelas XI LINTAS MINAT SMA Negeri 12 Bandung ?

      

     

    METODE PENEITIAN

    Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian Kelas (classroombased action research) dengan peningkatan pada unsur motivasi dan prestasi belajar prestasi belajar serta kreativitas siswa, untuk memungkinkan ditemukan dan diperolehnya efektivitas tindakan yang dilakukan. Konsep yang dipilih sebagai acuan peningkatan motivasi dan partisifasi belajar dalam mata pelajaran geografi adalah keberanian siswa untuk bertanya atau menjawab, sedangkan acuan peningkatan prestasi belajar dalam mata pelajaran geografi adalah hasil akhir nilai kognitif siswa yang harus mencapai ketuntasan.

    Data penelitian dikumpulkan melalui observasi dan catatan lapangan. Observasi dilakukan untuk  mengetahui , motivasi, dan hasil belajar siswa dalam pembelajaran geografi sesuai dengan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang telah dirancang. Adapun  catatan lapangan dilakukan untuk menggali aspek-aspek lainnya yang diperlukan dalam penelitian tindakan kelas ini.

              Penelitian ini dilaksanakan di Kelas XI LINTAS MINAT GEOGRAFI SMA Negeri 12 Bandung dalammateri geografi semester 1. Peserta didik terdiri dari laki-laki 32 orang dan perempuan 6 orang, jumlah keseluruhan 38 orang. Dipilihnya kelas XI LINTAS MINAT sebagai tempat penelitian karena diasumsi bahwa kelas ini telah memiliki kemampuan dasar ketrampilan kooperatif seperti mengajukan pertanyaan , menjawab pertanyaan /menanggapi, menyampaikan pendapat/ide, mendengarkan secara aktif respon dalammelaksanakan tugas. Penelitian ini berlangsung selama 1,5 bulan, dimulai dari Januari untuk persiapan, tanggal 14 Februari 2017 dan 16 Februari 2017 untuk siklus I; 21 Februari 2017 dan 23 Februari 2017 untuk siklus II

                                                                                                  

     PEMBAHASAN

    Salah satu faktor yang menyebabkan penulis berkeinginan untuk melaksanakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) adalah hasil evaluasi yang teleh diperoleh oleh Kelas XI Lintas Minat kurang memuaskan , penulis merasa ada hal yang harus diubah dari  metodemengajar dan pendekatannya. Berikut adalah hasil ulangan kelas XI Lintas Minat sebelum menggunakan model pembelajaran kooperatif

    Tabel 1

    Hasil Ulangan Kelas XI Lintas Minat sebelum ada Tndakan

    No

    Nilai

    Frekuensi

    Prosentase

    1

    50-54

    3

    7,9

    2

    55-59

    1

    2,6

    3

    60-64

    6

    15,8

    4

    65-69

    7

    18,4

    5

    70-74

    12

    31,6

    6

    75 - 79

    7

    18,4

    7

    80 - 84

    2

    5,3

    8

    85 - 89

    1

    2,6

    9

    90 - 94

    1

    2,6

    10

    95 - 100

     

    0,0

     

    Jumlah

    38

    100

     

    GAMBAR  1

    Tahap selanjutnya, kami mencoba menerapkan model cooperatif learning yang melibatkan siswa dalam pembelajaran. Sebelum guru menjelaskan materi pada hari itu, terlebih dahulu memberikan pre tes untuk melihat kemampuan awal siswa sebelum dilaksananan pembelajaran model cooperative learning. Langkah selanjutnya yang dilakukan oleh guru adalah menjelaskan materi secara umum dari diantaranya  menjelaskan faktor dinamika dan proyeksi kependudukan

    Setelah selesai kemudian meminta siswa untuk duduk sesuai dengan kelompok yang telah ditentukan, untuk mendiskusikan LKS yang akan diberikan guru pada tiap kelompok. Sebelum mereka berdiskusi guru memberikan penjelasan bahwa dengan belajar kelompok dan berdiskusi sesama teman belajar akan menjadi lebih mudah mengerti, bisa saling membantu, saling menghargai dan pekerjaan yang dianggap sulitpun akan mudah diselesaikan kalau dikerjakan secara bersama-sama. Setelah guru memberi penjelasan siswa tampak mulai bekerja menyelesaikan tugas yang telah diberikan. Sementara siswa sedang sibuk melaksanakan pekerjaan di kelompoknya, maka tindakan guru selanjutnya mengawasi jalannya diskusi dan sesekali memberikan arahan bekerja dalam kelompok.

                Diskusi berjalan sampai dengan batas waktu yang telah ditentukan, dan setelah itu guru menutup pembelajaran dengan meminta siswa masing-masing kelompok  untuk maju ke depan mempresentasikan hasil diskusinya. Setelah semua kelompok maju, maka tahap akhir pembelajaran diakhiri dengan memberikan pos tes.

    Motivasi belajar siswa tidak hanya ditentukan oleh siswa itu sendiri, akan tetapi juga ditentukan oleh seorang guru dalam menerapkan model pembelajaran baik didalam maupun diluar kelas. Oleh karena itu, ketika menemukan situasi motivasi belajar siswa yang rendah yang berdampak pada pestasi belajar, guru yang profesional tidak serta merta memvonis bahwa siswanya bodoh, akan tetapi guru akan mencari jalan keluar dengan menerapkan berbagai model pembelajaran.

    Hasil penelitian dikelas XI Lintas Minat , menunjukan bahwa rendahnya motivasi dan hasil belajar yang selama ini hanya menggunakan model ceramah dan tanya jawab yang membosankan siswa, ternyata permasalahan dapat teratasi dengan penerapan salah satu model pembelajaran yaitu dengan model cooperative learning. Berdasarkan hasil penelitian, sistem pembelajaran dengan menggunakan model cooperative learning dapat meningkatkan efektifitas pembelajaran. Hal ini terbukti dari beberapa fenomena berikut ini :

    1. Motivasi Belajar Siswa

    Berdasarkan data hasil penelitian, melalui penggunaan model pembelajaran cooperative learning, keseriusan siswa untuk belajar meningkat, yang ditunjukan oleh aktivitas mereka ketika guru menjelaskan dan ketika mereka diskusi, dimana mereka berusaha untuk bertanya, menjawab dan menanggapi permasalahan serta semua ikut andil menyelesaikan LKS yang ditugaskan pada setiap kelompok, sehingga jarang ditemukan siswa yang mengantuk aeperti ketika mendengar ceramah guru yang dianggap membosankan.

    1. Efektifitas Pembelajaran

    Pembelajaran dengan menggunakan model cooperative learning, terbukti cukup ampuh dalam mengaktifkan siswa sehingga dapat berubah pola teacher centered ke student centetered. Hal ini tidak terlepas dari strategi yang diterapkan baik dalam hal perencanaan, implementasi maupun evaluasi. Dalam proses perencanaan hasil sharing pendapat dengan rekan peneliti lain dan hasil observasi pada pembelajaran sebelumnya telah menjadi masukan yang sangat berarti dalam penyusunan perencanaan, sehingga dapat diambil tindakan kelas yang tepat dalam pembelajaran. Dalam proses implementasi atau pelaksanaan terhadap beberapa faktor yang mempengaruhi keberhasilan. Pertama, setiap kelompok adalah perpaduan antar anggota yang heterogen baik dari jenis kelamin maupun kemampuan akademik. Kedua, pemberian tugas yang lebih efektif yang disesuaikan dengan alokasi waktu dan sarana yang tersedia. Ketiga, kemampuan guru yang berhasil memposisikan diri sebagai fasilitator, motivator dan evaluator.

    1. Aspek-aspek keberhasilan siswa

    Aspek-aspek keberhasilan siswa sebagai akibat dari penggunaan cooperative learning, dapat ditinjau dari aspek keaktifan, motivasi dan hasil belajar. Ditinjau dari kreatifitas siswa, proses pembelajaran dengan cooperative learning telah mampu mengaktifkan sebagian besar siswa dalam belajar, sehingga siswa yang aktif dalam belajar bukan hanya milik siswa yang secara akademik tinggi, akan tetapi juga berhasil mengaktifkan siswa yang sebelumnya malas atau minder untuk bertanya, menjawab, atau berpendapat.

    Dilihat dari aspek motivasi, model pembelajaran cooperative learning, telah mampu meningkatkan motivasi belajar siswa, sehingga mau mencari atau menanyakan jawaban dari permasalahan yang dihadapi kepada teman sekelompoknya. Motivasi tinggi juga dapat dilihat dari meningkatnya rasa keingintahuan mereka terhadap permasalahan, sehingga kadang-kadang mereka kalau tidak puas bertanya di kelas, diluar kelas menanyakan kembali karena rasa penasaran terhadap fenomena geografis yang ada. Ditinjau dari aspek pretasi dan kreatifitas siswa, model pembelajarancooperative learning, telah mampu meningkatkan hasil tes belajar siswa untuk mencapai kriteria ketuntasan minimal dibandingkan dengan hasil tes dengan model pembelajaran sebelumnya yang banyak dari siswa tidak mendapatkan nilai tuntas. Selain itu kreatifitas siswa juga muncul dengan menghasilkan beberapa hasil kreatifitas yang dapat dijadikan media pembelajaran, baik berbentuk maupun bentuk kreatiftas lain yang dapat membantu mereka mempermudah dalam mengidentifikasi Aspek lain yang dihasilkan dari pembelajaran cooperative learning ini adalah prinsip getting better together yang memunculakn rasa kebersamaan, kekompakan rasa saling menghargai dengan berbagai perbedaan yang ada, dengan tetap bersaing secara sehat baik secara individu atau kelompok.

    Kesimpulan

    Dari hasil dan pembahasan penelitian seperti yang telah diungkapkan di muka secara umum dapat disimpulkan bahwa melalui penelitian tindakan kelas yang dilakukan dalam penelitian ini berhasil mencapai tujuan penelitian yaitu dapat meningkatkan motifasi dan partisipasi siswa dalam belajar geografi.

    Tabel 2

     

    Gambar  2

    Keberhasilan ini tercermin dari hasil evaluasi proses dan evaluasi hasil belajar, dari tabel Nampak sekali peningkatan nilai yang cukup tingi dari siklus I ke siklus II menunjukkan peserta didik sudah nyaman dan senang dengan modelpembelajaran kooperatif , evaluasi proses ditunjukkan dengan meningkatkannya prestasi belajar yang semua telah mencapai tuntas berdasarkan kriteria yang ditentukan, evaluasi hasil juga telah berhasil menghasilkan salah satu bentuk hasil kreatifitas sederhana yang dapat digunakan sebagai media dalam pembelajaran. Hasil observasi kemampuan Guru dalam pengembangan ajar melalui model pembelajaran kelompok strategi kooperatif menunjukkan perubahan yang nya,dalam halini bukan hanya peserta didik yang harus di observasi,gurupun wajib diobservasi karena cukup besar dalam menentukan kondusif, nyaman dan menyenangkan di kelas. Partisipasi peserta didik juga meningkat semua mau terlibat dalam kelompok danmengerjakan tugasnya masing-masing.

     

    Berdasarkan hasil dari kesimpulan penelitian maka kami peneliti dapat menyarankan hal-hal sebagai berikut :

    1. Peningkatan motivasi dan partsifasi serta prestasi dan kreatifitas belajar, dengan menggunakan modelcooperative learning, hanya merupakan salah satu model pembelajaran saja, oleh sebab itu perlu dikembangkan model-model lainnya yang sesuai dengan karakteristik bidang studi.
    2. Penggunaan sumber belajar dalam penelitian ini, belum dilakukan secara optimal, karena keterbatasan sumber-sumber belajar berupa buku-buku di sekolah.
    3. Pembelajaran dengan memanfaatkan lingkungan sekitar sebagai sumber belajar seperti praktek lapangan ke lapangan ke tempat – tempat yang memiliki ciri khas kebudayaan Indonesia.
    4. Wisata sambil mengenal budaya local sebagaikekayaan budaya Indonesia
    5. Literasi dan eksplorasisangat membantu juga untu memahamimater Kebudayaan Nasional ini.

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

    DAFTAR  PUSTAKA

     

    Dahlah, M.D. (1984). Model-Model Pembelajaran, Bandung: CV Dipenogoro

     

    Musclich, Masnur. (2007). KTSP (Pembelajaran Berbasis Kompetensi Dan Konteksual),

    Jakarta: PT Bumi Aksara

     

    Sanjaya, Wina. (2007). Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan,

    Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

     

    Sukmadinata, N.Sy. (2004). Kurikulum Dan Pembelajaran Kompetensi, Bandung: PT Remaja Rosdakarya _______________ . (2004). Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktek, Bandung: PT Remaja Rosdakarya

     

    Yasmin, Martinis (2006) Strategi Pembelajaran Berbasis Kompetensi, Jakarta : Gaung Persada Press Jakarta.

     

     

     

     

    © 2017 Sekolah Menengah Atas Negeri 12 Bandung